Facebook: Belajar dari para Raksasa Dunia Maya (bag 3)

May 31, 2010 by admin  
Filed under Pitoyo Amrih


Seri Membangun Bisnis Dunia Maya (32)

Rata-rata anak muda, diawal-awal masa kuliah, bila dia menghadapi sebuah masalah, masalah keuangan, diputus pacar, tidak lulus ujian dan sebagainya, biasanya mereka melakukan hal-hal yang agak radikal untuk melampiaskan kekesalannya. Ada yang berbau positif misal dengan siang malam melakukan hasrat hobi dan kesenangannya tanpa kenal waktu, kenal lelah, atau peduli pada tetangga. Saya pernah kenal seorang teman yang ketika dia tidak lulus sebuah mata kuliah melampiaskan dengan bermain gitar semalaman genjrang-genjreng membuat bising satu RT.

Tapi amat disayangkan, banyak juga diantara para pemuda mahasiswa itu melampiaskan kekecewaan dengan hal yang jelas-jelas negatif, dengan cara merusak. Baik merusak diri sendiri maupun merusak hal-hal yang seharusnya di pelihara dengan baik. Ada yang membenamkan diri dengan minuman keras merusak otak mereka. Ada yang membuat onar kesana-kemari meresahkan banyak orang. Konon katanya, sebagian besar para pemuda mahasiswa yang sering demo terpampang di televisi, masalah utamanya sebenarnya bukan pada aspirasi apa yang mereka sampaikan, tapi lebih kepada ungkapan rasa kecewa tanpa kendali yang baik, yang bisa berbuntut anarki dan pengrusakan-pengrusakan.

Dan anda mungkin akan tersenyum kecut bila membaca kisah sukses Mark Zuckenberg dengan Facebook-nya. Karena semua itu berawal dari rasa frustasi dan kecewanya saat di tinggal pacar di awal-awal musim kuliahnya dulu! Nah!

Istilah Facebook, awal mulanya tidak muncul dengan sendirinya sebagai kata-kata karangan Zuckenberg sendiri. Itu adalah sebuah istilah. Di Amerika sono, ada sebuah kebiasaan lokal di beberapa kampus, para mahasiswa baru dibuatkan semacam lembaran profil mengenai data diri mereka lengkap. Setiap mahasiswa punya profil sendiri, kemudian kumpulan profil sekian banyak semua mahasiswa baru itu, dibendel menjadi sebuah buku tebal, dan dibagikan ke semua mahasiswa universitas tersebut. Bendelan buku profil inilah yang diberi judul “face book”. Karena memang diberi judul demikian di halaman mukanya, semua latah demikian, mengikuti ide yang pertama kali konon terjadi di sebuah sekolah akademi bernama Phillip Exeter Academy, yang ketika itu menjadi tempat yang menjelang tahun 2000-an, pertama kali memiliki kebiasaan menerbitkan buku diberi judul ‘face book’ setiap tahunnya yang berisi profil lengkap semua mahasiswa baru.

Kira-kira mulai tahun 2003-an, Harvard University, membuat fungsi ‘face book’ tadi tapi dalam bentuk software yang ditanam di jaringan Local Area Network dan hanya bisa di akses secara internal. Tampilan muka ‘face book’ versi softcopy ini berisi profil seluruh mahasiswa dan kompilasi foto-foto yang bisa di-upload, di-update dan di-akses siapa pun secara internal di lingkungan universitas. Karena merupakan sebuah laman resmi sebuah universitas, maka profile-name yang tertera pun nama sebenarnya, profile-picture juga gambar sebenarnya dari sang empunya nama, juga semua informasi ter-up-load merupakan informasi yang memang apa adanya.

Nah, menurut ceritanya, di suatu malam di bulan Oktober 2003, Zuckenberg sang Facebook.com founders, yang ketika itu masih di tingkat pertama kuliah di Harvard University, ketiban sial diputus pacarnya. Malam itu juga dia nge-blog semalaman melampiaskan kekesalannya. Dan kemampuannya dalam hal membobol jaringan orang lain pun, malam itu seakan mendapat stimulus, sehingga semalaman dia duduk di depan layar melakukan keisengan, membobol jaringan Harvard, men-download ID semua mahasiswa secara ilegal, dan kemudian meng-upload-nya di internet ruang publik, dengan nama Facemash. Sekaligus di malam itu juga dia melakukan modifikasi tampilan profile itu sehingga setiap orang bisa menuliskan komentar pada setiap profile serta upload foto-foto tambahan secara bebas. Mungkin sebagai pelampiasan agar dia bisa marah-marah dengan seseorang secara diam-diam lewat profil-nya.

Rupanya sejarah terukir malam itu. Hanya dalam waktu empat jam sejak Facemash mengudara di dunia maya, tercatat ada 450 visitor entah dari mana, dan lebih dari duapuluh ribu foto terup-load malam itu oleh entah siapa. Hanya dalam beberapa hari muncul ratusan ID-ID baru karena Zuckenberg juga me-modifikasi fungsinya sehingga memungkinkan setiap orang –khususnya mahasiswa, karena saat itu begitu heboh beritanya di kalangan mahasiswa di Amerika- untuk membuat profil-profil baru. Dan karena profil yang terdahulu memperlihatkan nama asli serta foto profil dengan gambar foto diri sebenarnya, maka para follower baru itu pun ikut terbawa dengan membuat profil nama asli dan foto jujur.

Selama beberapa minggu setelah itu, Zuckenberg harus menghadapi masalah hukum atas apa yang dilakukannya. Harvard menuntutnya dengan bermacam pelanggaran, pembobolan, pencurian data, pembajakan software. Facemash pun di tutup. Tapi pengalaman berharga itu rupanya telah menginspirasi Zuckenberg.

Menjalani masa skorsing akibat apa yang dilakukannya, mulai January, 2004, dia justru mulai membuat script website sendiri mengambil ide ala Facemash dengan penyempurnaan-penyempurnaan. Dia pun menyampaikan gagasannya kepada teman-teman sekamarnya di asrama. Eduardo Saverin, Dustin Moskovitz, dan Chris Hughes. Mereka pun menciptakan mimpi bersama mereka ingin membuat semacam buku angkatan “face book” yang tidak hanya di sebuah lingkup universitas, tapi terpampang di jaringan publik, dengan fungsi-fungsi interaktif yang tentunya tidak mungkin bisa dilakukan bila hanya dalam bentuk bendel print-out. Mereka daftarkan pertama kali dengan nama thefacebook.com, kemudian melakukan publikasi kepada teman-teman mereka sehingga menjadi sebuah functioned-engine yang berfungsi sebagai social networking.

Ketika itu sudah nge-top social-network yang terkenal semacam friendster, myspace dan sebagainya yang lebih banyak memakai nama alias dan foto avatar. Dan pilihan nama ‘facebook’ itu cukup mengena. Karena semua mahasiswa akan langsung terbawa pikiran mereka kepada bendel data profil yang seharusnya memuat profil secara jujur, nama aslinya, dan foto asli mereka. Dan hanya dalam waktu duapuluh empat jam, terdaftar lebih dari sepuluh ribu member, dan menampilkan nama, foto, serta informasi tentang mereka apa adanya.

Sejak itu bagai bola salju bergulir. Semua orang tidak hanya mahasiswa menjadi member thefacebook.com yang kemudian diubah menjadi facebook.com agar lebih mudah diingat. Pelajar, para profesional, ibu rumahtangga, politikus, semua dengan sukarela menjadi member, dan meng-upload nama, foto, serta informasi mereka apa adanya. Dan inilah yang sampai saat ini menjadi kekuatan facebook dibanding social network lainnya. Orang akan dengan mudah menemukan teman lama mereka, keluarga yang sudah lama terpisah. Para penggemar public-figure dengan mudah bertegur sapa dengan idolanya.

Sampai sekarang tercatat lebih dari delapan ratus juta member terdaftar, lebih dari puluhan juta visit setiap harinya, bergerak antara urutan dua dan tiga berdasarkan rangking jumlah visit yang di-index Alexa.com. Berganti-ganti berkejaran dengan posisi Yahoo!. Tak heran para raksasa dunia usaha ini pun melirik dan menggelontorkan share kepemilikan atas facebook.com walaupun sampai sekarang, Mark Zuckenberg dan kawan-kawannya masih belum merubah status perusahaan ini sebagai usaha private. Perusahaan besar semacam Paypal, Microsoft dan beberapa individu bilionare dari berbagai negara bahkan sampai Asia seperti Hongkong dan Malaysia.

Setiap orang pastilah pernah mengalami kekecewaan-kekecewaan. Saya hanya mencoba bermimpi, alih-alih para adik-adik mahasiswa kita yang senang melampiaskan kekecewaan dengan cara-cara anarki, mengapa tidak mencoba melampiaskan kekecewaan dengan melakukan sesuatu yang mungkin dalam beberapa tahun bisa mendatangkan keuntungkan, syukur-syukur bermanfaat bagi banyak orang. Anda mungkin boleh skeptis, tapi yang jelas, Zuckenberg telah membuktikan bahwa hal itu bisa menjadi tidak hanya sekedar mimpi…

*) Pitoyo Amrih. www.pitoyo.com - home improvement; bersama memberdayakan diri dan keluarga

Belajar dari para Raksasa Dunia Maya (bag 2 – Yahoo!)

March 1, 2010 by admin  
Filed under Pitoyo Amrih

Seri Membangun Bisnis Dunia Maya (31)

Saya masih ingat dulu ketika pertama kali saya coba kutak-kutik menjelajah dunia maya, mungkin sekitar tahun 1997. Ketika itu memiliki alamat e-mail untuk seorang individu boleh dikata sebuah kepemilikan langka. Saat itu, yang seharusnya memiliki alamat e-mail adalah sebuah perusahaan yang berniat menjalin komunikasi di internet. Sementara bagi para individu, lebih kepada keinginan menaikkan gengsi. Karena alamat e-mail yang ada masih berbayar.

Waktu itu, saya termasuk yang juga tergoda gengsi, ikut ‘beli’ alamat e-mail dengan membayar tiap bulan. Walaupun cuman bertahan tidak sampai setahun, tapi itulah yang terjadi. Saat ini, lebih dari sepuluh tahun kemudian, mungkin kita akan tersenyum sendiri, punya alamat e-mail harus bayar? Hmm..

Dan di era tahun 1997 itu, adalah sebuah penyedia jasa internet yang berkontribusi merubah paradigma bahwa alamat e-mail bukanlah sebuah kemewahan yang mendaftarkan dirinya dengan nama Yahoo.com. Mereka memberi layanan web-base e-mail gratis bagi siapa saja. Memang saat itu kita tidak bisa serta merta memberi gelar Yahoo sebagai sang pelopor bagi e-mail gratisan. Karena ada juga Mailcity –yang saat ini lebur dalam perusahaan Lycos-, Hotbot, MSN. Tapi peran Yahoo tak bisa kita abaikan begitu saja, ketika kemudian dengan berjalannya waktu, Yahoo secara dramatis dari waktu ke waktu selalu menambah kuota mailbox-nya sampai dengan unlimited beberapa tahun terakhir ini. Sebuah gebrakan yang tentunya tak mudah. Dan Yahoo juga yang saya pikir ketika itu memulai menambah feature mail gratis-nya tidak hanya dalam bentuk web-base mail, tapi bisa di-set untuk ter-‘download’ dalam program POP3 maupun SMTP, kirim terima e-mail dengan menggunakan software mail-client. Sehingga kepemilikan alamat e-mail Yahoo tidak lagi terkesan murahan, tapi lebih personal.

Sang pendiri bernama Jerry Yang dan David Filo. Yang, adalah warga Amerika imigran asal Taiwan, sementara Filo adalah seorang yang dibesarkan di sebuah kota kecil di daerah Lousiana, Amerika. Mereka berdua dipertemukan sebagai dua orang peneliti paska sarjana di Universitas Stanford di bidang Electrical Engineering. Kabarnya mereka, ketika itu, di tahun 1990-an justru mulai tertarik dengan dunia internet dan berbekal keinginan mereka untuk membantu, mereka membuat program di bawah situs stanford.edu. Sebuah program untuk memberi petunjuk apa dan bagaimana memulai berselancar di dunia maya. Mungkin mirip sebuah function engine website portal, tapi terlihat lebih sederhana. Program yang di-upload di http://akebono.stanford.edu/yahoo.

Mereka memberi nama Yahoo, bermula dari singkatan atas kata itu : “Yet Another Hierarchical Officious Oracle”. Sebuah sebutan bagi program mereka, sekaligus konon katanya karena mereka juga suka dengan kata Yahoo itu sendiri, yang bermakna sebuah ungkapan ‘liar dan terbebaskan’ dalam bukunya Jonathan Swift yang berjudul Gulliver’s Travel.

Yahoo sendiri terdaftar sebagai domain resmi yahoo.com pada Januari 1995. Sejak itu, Yang dan Filo semakin menggilai dan semakin menekuni apa yang begitu mengasikkan bagi mereka. Meninggalkan keahlian formal mereka sendiri sebagai seorang Insinyur Listrik. Mereka semakin mempercantik layanan portal mereka. Sebuah halaman homepage yang memuat banyak hal dengan tampilan yang semakin dibuat mudah dan akrab bagi mata para peselancar dunia maya. Ada search engine, ada kolom update berita dari berbagai penyedia layanan berita, ramalan cuaca, ada game, semuanya dalam satu halaman! Maka portal mereka semakin banyak dikunjungi, dan semakin banyak perusahaan layanan internet kecil-kecil yang ingin ‘menginduk’ kepada mereka.

Istilah website ‘portal’ sendiri, layaknya sebuah pintu gerbang menuju ke segala macam halaman web lain tergantung apa keinginan para user. Pintu gerbang yang bisa dianalogikan sebagai ‘pintu masuk’ sebuah kawasan yang berisi segala macam informasi dan layanan internet. Ketika semakin banyak orang masuk melalui pintu gerbang itu, wajar kiranya, semakin banyak perusahaan kecil-kecil yang rela ‘menggabungkan diri’ masuk dalam ‘kawasan’ dalam lingkup portal itu.

Maka mulailah kerjasama itu. Perusahaan layanan e-mail yang kecil bernama RocketMail -dibanding raksasa Mailcity- yang bergabung dengan Yahoo dan menjadi Yahoo! Mail. ClassicGame.com salah satu pelopor game on-line saat itu, bergabung dengan Yahoo dan beralih rupa menjadi Yahoo! Games. Mereka pun berinovasi dengan Yahoo! Pager yang kemudian berubah nama menjadi Yahoo! Messenger dan begitu akrab bagi para pengguna internet dan ponsel.

Jerry Yang dan David Filo rupanya tidak hanya pintar dalam hal program-memrogram. Mereka juga begitu ringan tangan dalam semangat kebersamaan antara pelaku usaha dunia maya. Mereka sepertinya tidak melihat para pelaku lain di jagad internet sebagai seorang pesaing, mereka lebih melihat kompetitor bukanlah sebagai kompetitor, tapi rekan untuk berbagi. Hal ini bisa kita rasakan saat mereka melakukan hal-hal yang dianggap perlu untuk membuat Yahoo bisa bertahan dalam era ‘Dotcom Bubble’ di sekitar tahun 1999 sampai tahun 2002-an.

Pertumbuhan perusahaan Dotcom sejak awal 1990-an, membuat orang terutama di Amerika sana berlomba-lomba menjadi yang terdepan dalam menginvestasikan uang mereka di dunia maya. Begitu banyak perusahaan dotcom bermunculan dengan segala macam layanan. Baik yang berskala server dari garasi rumahan sampai perusahaan dotcom dengan nilai investasi jutaan dolar menguasai segala macam prasarana dan perangkat kerasnya. Tapi rupanya, pertumbuhan pasar tidak sepesat pertumbuhan modal. Khalayak ‘mengkonsumsi’ dunia maya dengan pertumbuhan wajar-wajar saja. Jadilah sang bubble di awal 2000-an. Perusahaan dotcom pun berguguran. Tapi Yahoo bukanlah salah satu diantaranya. Yahoo justru menggalang kerjasama dengan perusahaan dotcom untuk bisa bertahan.

Dan masa sulit itu telah lewat. Kini Yahoo telah menggelar kantor-kantor di banyak ibukota di seluruh dunia. Dan memperkerjakan hampir 15 ribu karyawan di seluruh dunia, dengan penghasilan lebih dari 4 milyard dollar setahun! Jadilah kini Yahoo.com duduk di urutan ke-dua selama beberapa tahun terakhir ditilik dari jumlah kunjungan per harinya yang mencapai 50 juta visitor!

Terlepas dari kontoversi dan masalah yang menimpa Yahoo sendiri sebagai perusahaan, terutama terkait dengan masalah privasi, sifatnya yang dianggap lunak terhadap ancaman spyware, serta beberapa anggapan yang melihat mereka kurang bisa mengakomodasi hal-hal yang bersifat budaya lokal seperti yang terjadi pada kasus mereka di Cina, yang jelas kita bisa banyak belajar dari sang pendiri, Yang dan Filo atas keyakinan pilihannya ketika dia meninggalkan profesi mereka sebagai peneliti dan memilih untuk tekun terhadap apa yang mereka senangi.

Juga semangat kebersamaan mereka, ketika menjadi salah satu pemilik penyedia layanan website yang selalu aktif menjalin kebersamaan dengan perusahaan dotcom lain –tinimbang sikap yang terlalu menganggap perusahaan dotcom lain sebagai pesaing- sehingga bisa melewati masa bergugurannya perusahaan dotcom kala itu.

Banyak orang bilang saat ini negara kita sedang menghadapi banyak masalah. Yang dan Filo memberi contoh kepada kita sikap kebersamaan untuk dapat melewati kesulitan. Bukannya saling curiga dan menyalahkan, sesuatu yang sepertinya masih biasa kita lakukan…

*) Pitoyo Amrih. www.pitoyo.com - home improvement, bersama memberdayakan diri dan keluarga

Belajar dari para Raksasa Dunia Maya (bag 1 – Google)

December 15, 2009 by admin  
Filed under Pitoyo Amrih


Seri Membangun Bisnis Dunia Maya (30)
Di tahun 1996, bahkan mungkin Lawrence Page dan Sergey Brin tak pernah berpikir bahwa di tahun 2009 mereka bakal memiliki lebih dari sembilan belas ribu karyawan tetap yang bekerja untuk mereka. Page dan Brin, yang saat itu masih kurus tinggi, dua orang yang sedang menekuni studi PhD di Stanford University, mungkin juga tak pernah menyangka, bahwa salah satu penelitiannya saat itu tentang metode piranti lunak mesin pencari di internet, akan merubah perilaku dunia dalam hal mencari sebuah informasi di dunia maya, juga perilaku para praktisi iklan bila ingin merambah dunia maya sebagai media advertising mereka.

Dan dari tangan mereka terciptalah Google. Sebuah terminologi yang saat itu konon katanya salah eja. Ada yang mengatakan bahwa maksudnya akan memakai kata “Googol”, sebuah kata yang secara harfiah bermakna bilangan satu diikuti seratus angka nol di belakangnya, sehingga diartikan secara konotatif yang mengekspresikan bahwa mereka akan menyediakan informasi yang sangat banyak! Ada juga yang mengatakan bahwa maksud mereka sebenarnya akan memakai kata “Goggle”, sebuah kata yang berarti alat bantu penglihatan agar dapat mengamati lebih baik. Tapi apa pun itu, kata “Google” awal sekali di daftarkan menjadi sebuah domain, adalah kata yang salah eja. Namun sejarah mencatat, bahwa dari kata yang salah eja inilah, tahun 2006, Oxford English Dictionary menambahkan kata kerja ‘google’ dalam kamus mereka, yang berarti mencari informasi di internet. Sehingga sejak itu istilah ‘googling’ –tambahan –ing sebagai bentuk present tense- menjadi umum di telinga.

Google adalah salah satu keajaiban dalam bisnis dunia maya! Empat tahun terakhir secara bertutut-turut, Google masih bertengger sebagai ‘number-one’ top-list dunia, sebagai website pada urutan teratas dalam hal jumlah kunjungan tiap harinya. Anda bisa bayangkan, sebuah website yang dikunjungi rata-rata sebanyak lebih dari seratus empat puluh juta unique visitor tiap harinya! Bisa disetarakan dengan jumlah penduduk sebuah negara!

Apa yang kita bisa pelajari dari mereka? Mungkin sebagian dari kita, apa yang dilakukan Page dan Brin adalah sebuah extra upaya, bertemu dengan kondisi beruntung, yang terlalu absurd bagi kita untuk bisa kita tiru. Anggapan yang menurut saya salah dan angapan inilah yang selama ini hampir selalu membelenggu kita bangsa Indonesia untuk maju. Seolah dari awal kita sudah mengkondisikan diri kita sendiri bahwa talenta kita berada di bawah talenta rata-rata penduduk negara maju.

Keistimewaan yang utama dari Page dan Brin, menurut saya, adalah pada kompetensi mereka dalam hal mencipta dan paham betul secara detail apa yang mereka kembangkan terhadap function engine yang kemudian mereka tawarkan sebagai alat bantu di dunia maya bagi siapa saja yang mencari informasi. Karena mereka adalah mahasiswa yang menekuni betul apa yang mereka lakukan, sehingga terciptalah tata cara sebuah indexing mesin pencari yang mereka bisa buktikan lebih efisien dan lebih akurat dalam me-rangking sebuah ‘kata kunci’ dalam hutan belantara dunia maya.

Padahal saat itu, ketika mereka mengembangkan Google, sudah banyak dikenal orang mesin pencari semacam Altavista, Hotbot, dan sebagainya. Tapi Page dan Brin tak berhenti, mereka tetap mendaftarkan domain mereka Google, dan dengan metode unik cara pencarian mereka, Page dan Brin mencoba menawarkan fungsi yang sama kepada khalayak pengguna internet. Dan di awal mereka mendaftarkan domain mereka google.com, tak lebih dari sekedar upaya mereka melakukan serangkaian test terhadap tesis studi mereka. Dari yang semula secara internal di standford.google.com menginduk ke universitas tempat mereka belajar, untuk memperluas studi kasusnya secara eksternal tidak hanya lingkungan kampus mereka.

Ketika itu memang sudah mulai terbentuk sebuah anggapan bahwa search-engine di satu sisi bagi khalayak pengguna adalah sebagai alat bantu pencari informasi. Tapi di sisi lain, bagi pelaku bisnis, search-engine bisa menjadi semacam marketing-tools untuk mempromosikan produk mereka. Sebuah anggapan yang sampai sekarang menjadi sebuah paradigma, sampai kepada pengertian bahwa bila ingin produk anda dikenal di dunia maya, maka banyaklah ‘berteman’ dengan search-engine.

Berawal dari anggapan itulah, situs-situs function-engine yang memang dari awal mengkhususkan diri sebagai search-engine sudah langsung memasang tarip atas jasa diri mereka sebagai salah satu marketing-tools. Sehingga untuk menggenjot pemasukan bagi mereka, para search-engine –selain sebagai search-engine- juga menciptakan tool-tool marketing yang lebih menarik –tinimbang hanya sebatas daftar pada mesin pencari- seperti pop-up banner, atau apa yang mereka istilahkan dengan ‘advertising funded search-engine’.

Page dan Brin tidak begitu saja mengikuti arus pelaku bisnis search-engine. Tampilan dan cara-cara mereka terkesan lebih konservatif. Penyampaian iklan mereka lebih banyak di dominasi oleh –apa yang mereka istilahkan- simple text ads. Sehingga apa yang mereka lakukan di awal sekali dulu, ditanggapi para khalayak –baik pengguna maupun pelaku usaha- lebih banyak sebagai upaya membantu tinimbang sebagai profit oriented bussiness. Para pengguna search engine tidak merasa terganggu, karena iklan-iklan yang muncul terlihat lebih ‘sopan’. Para pelaku bisnis juga merasa nyaman karena awareness terhadap mereka meningkat dengan cara-cara yang tidak dipaksakan. Jadilah mereka sebagai situs search-engine yang dengan cepat dikenal, banyak digunakan, dan dengan cepat pula para pelaku bisnis lebih suka melirik ke Google sebagai partner mereka.

Ketika bisnis mereka mulai tumbuh menjadi sebuah perusahaan yang mapan, membangun kantor, merekrut banyak software-engineer untuk menciptakan inovasi-inovasi baru dalam internet-ads, menyebar jaringan server ke seluruh dunia, apa yang menjadi keunikan mereka adalah ketika mereka berupaya membangun company-culture yang rada beda dengan kebanyakan perusahaan lainnya.

Di sebuah kawasan perkantoran yang mereka namai Googleplex, konon hampir tak ada kesan sebuah kantor konvensional layaknya kegiatan bisnis kebanyakan. Masuk lobi kantor mereka, justru sebuah piano yang terpampang, dan sebuah proyeksi hasil search-query sebagai latar belakangnya. Di hall yang sama, penuh dengan alat olah-raga dan steady-bike yang setiap saat bisa diakses semua karyawannya. Dan di hampir setiap sudut kantor banyak alat-alat hiburan seperti video-game, snack-room, meja ping-pong. Mengapa bisa seperti itu? Mungkin anda bisa sedikit mencari celah jawaban ketika kita mendengar komentar-komentar sang pendiri dalam beberapa wawancara, yang menyampaikan sebuah semangat semacam “..you can be serious without a suit..”, atau hal yang pernah dikatakan Brin, yaitu “..work should be challenging, and the challengge should be fun!..”. Kalau menilik definisi yang pernah disampaikan Andy F.Noya tentang definisi seseorang yang bahagia, adalah orang yang bisa mendapatkan uang untuk menghidupi diri dan keluarganya secara cukup dari pekerjaan yang dia senang melakukannya, maka mungkin Page dan Brin termasuk dalam definisi ini.

Dan kebesaran Google seakan belum juga menemui kejenuhan. Tahun ini saja, tercatat mereka bisa memperoleh revenue lebih dari 20 milyard dollar! Dengan market-share untuk bisnis sejenis lebih dari 50%, mengalahkan Yahoo! Search di urutan ke-dua di hanya 19%.

Kembali ke pertanyaan yang diatas sudah saya sampaikan, apa yang bisa kita pelajari dari mereka? Sebuah talenta yang diasah oleh sebuah kemauan untuk belajar dan ketekunan selalu akan berbuah sebuah kompetensi unik setiap individu. Saya yakin lebih dari dua ratus juta penduduk Indonesia, pastilah banyak yang memiliki talenta-nya masing-masing. Saya yakin banyak diantara mereka yang kemudian tekun mengasah kompetensinya, diantara lalu-lalang berita yang seolah mengindikasikan bangsa kita yang lebih suka demo, menghujat, mengeluh dan meratap pada keadaan maupun pada pemerintah penyelenggara negara.

Dan Page dan Brin, dengan kompetensi unik mereka, tidak serta merta memasang tarip kepada setiap orang yang membutuhkan hasil kreasi mereka. Semangat mereka di awal lebih kepada membantu. Itulah kemudian banyak orang berbondong justru memakai produk mereka! Dan ketika mereka besar dan mulai memiliki karyawan, mereka lebih menganggap karyawan mereka sebagai ‘partner’, yang untuk produktif juga harus diperhatikan kebutuhannya, tidak sekedar hanya sebagai pekerja.

Page dan Brin adalah kisah nyata sebuah kemungkinan. Satu hal yang juga bisa jadi terjadi pada semua orang dengan semangat, kemampuan dan kemauan layaknya mereka. Termasuk kita!

*) Pitoyo Amrih; www.pitoyo.com - home improvement, bersama memberdayakan diri dan keluarga

Internet.., Ancaman atau Kekuatan-kah? (Bag 3)

June 29, 2009 by admin  
Filed under Pitoyo Amrih

Seri Membangun Bisnis Dunia Maya (29)

Terasa sekali, mulai sekitar sebulan lalu, kerja laptop saya menjadi amat sangat melambat. Buka file yang biasanya cepat, sejak sebulan lalu terasa berat. Saya juga tidak begitu paham benar mengapa bisa menjadi demikian. Teman-teman saya berpendapat bahwa laptop saya itu sudah terjangkiti banyak virus, worm, spy-ware, dan sebagainya. Akses internet dengan broadband yang biasanya cepat juga seperti menjadi tertatih-tatih. Saya yang sudah memasang jenis free antivirus yang selalu ter-update secara online ternyata belum cukup menangkal itu semua.

Kita manusia kebetulan memang hidup ditengah bermacam ragam sifat dan tabiat manusia. Ada baik, ada jahat, ada yang ramah, ada yang pendendam. Perlu telaahan yang tidak sederhana ketika kita coba memahami orang-orang yang secara sadar dan sengaja menggunakan keahliannya untuk membuat repot orang, seperti para pencipta virus komputer. Tapi itulah yang terjadi, suka atau tidak suka, ada orang-orang seperti mereka hidup di antara kita. Orang seperti ini ada, sama tuanya dengan usia teknologi komputer itu sendiri. Sama seperti sifat buruk dari seseorang, seperti mencuri, membunuh, dan sebagainya, ada dan sama tuanya dengan peradaban manusia itu sendiri.

Dulu sekali, ketika komputer masih lebih banyak bersifat stand alone, wabah merebaknya suatu jenis virus komputer juga tak seheboh sekarang. Dulu, bila saja kita selalu disiplin untuk memantau setiap external disc yang dibaca komputer, maka sudah menyumbang solusi yang jitu untuk menangkal virus masuk ke hard disc komputer kita.

Lain dulu, lain sekarang. Saat ini, orang beli atau memiliki komputer, entah itu desktop ataupun mobile, hampir bisa dipastikan bahwa komputer itu nantinya, atau paling tidak direncanakan untuk bisa terkoneksi dengan internet. Ditambah lagi saat ini, banyak sekali provider koneksi internet yang berlomba-lomba memberikan penawaran murah kepada konsumen. Sehingga selain perlu disiplin dalam hal tukar menukar data dari hard-drive, juga kita musti pandai-pandai dalam menyiapkan penangkal dari ancaman luar yang bisa jadi masuk ke dalam komputer dengan memanfaatkan koneksi internet.

Dan dari dunia internet, tidak hanya virus yang memungkinkan merusak kerja software kita yang mengancam! Di sana ada spyware, semacam program yang tiba-tiba masuk ke sistem file kita dan bersembunyi sambil mencatat setiap aktifitas kita terhadap komputer kita, untuk kemudian ‘melaporkan’ ke induk semangnya setiap komputer tersebut terkoneksi, segala apa yang dia catat terhadap kita, yang nantinya akan dipakai untuk kepentingan mereka atas kita. Bisa jadi terjangkiti worm yang memungkinkan terciptanya bug di komputer kita sehingga fungsi-fungsi tertentu tidak berjalan dengan semestinya. Ada Adware, yang kadang membuat kita kesal ketika setiap kali terkoneksi internet, ada saja pop-up windows yang berisi iklan-iklan yang mengganggu aktifitas kita.

Salah seorang teman saya, sampai ada yang memisahkan kegiatannya pada dua komputer yang terpisah. Satu komputer yang memiliki operating system Linux, yang dikoneksi dengan internet. Konon kabarnya, Linux lebih memiliki ketahanan terhadap malware internet. Saya juga tidak tahu persis apakah kabar itu benar atau hanya sekedar mitos. Tapi teman saya itu benar-benar menerapkannya. Sementara satu komputer lagi, yaitu komputer mobile yang dipakainya bekerja, tidak pernah sekalipun di set sebagai komputer terhubung di internet. Transfer file, bila harus download dari internet, dia ambil dari komputer terhubung yang berbasis Linux, masukkan USB drive. Kemudian dia scan antivirus dulu sebelum dipindah ke komputer kerjanya. Cukup merepotkan. Tapi dia merasa nyaman dengan mekanisme kerja demikian.

Sedemikian mengerikankah dunia internet? Apalagi bila saja internet juga menjadi salah satu ladang usaha kita, bukankah justru menjadi tidak efisien ketika kita harus bekerja seperti yang teman saya contohkan di atas? Misal kita punya website, punya online store. Ketika sekarang banyak sekali web-page dan web-store yang sudah dilengkapi CMS sehingga begitu mudah dalam mengoperasikannya, saya yakin semakin banyak webmaster –si administrator pengelola web- justru datang dari orang kebanyakan yang tidak memiliki pengetahuan mendalam tentang teknis pemrograman. Sehingga hal-hal yang menyangkut masalah sekuriti, mereka serahkan –atau mungkin tepatnya ‘pasrahkan’- saja kepada para webmaster di tingkat penyedia jasa hosting provider, yang tentunya lebih ahli dalam menangani hal-hal teknis.

Beda ceritanya bila sebuah perusahaan ‘brick and click’ yang memiliki kemampuan memperkerjakan orang yang kompeten di teknologi informasi sehingga bisa mengelola selain konten juga hal-hal yang bersifat teknis pemrograman. Bagi ‘brick and click’ skala kecil atau bahkan ‘pure-player’ yang bisa jadi melakukan bisnis di internet secara sambilan, maka masalah sekuriti biasanya memakai strategi ‘gimana nanti sajalah..’ tanpa strategi yang bersifat antisipatif.

Karena bagaimanapun juga, bagi pengelola bisnis online, paling tidak tetap di butuhkan dua ‘wadah’ dalam menyimpan semua konten usahanya. Satu ‘wadah’ yang ada di hosting provider, yang berisi konten-konten yang tertampil di website. Untuk wilayah ini biasanya lebih terkendali masalah keamanannya, karena dukungan support teknis dari penyelenggara layanan hosting. Apalagi bila perusahaan penyedia hosting adalah perusahaan besar dan memiliki kondite yang bagus di kalangan per-hostingan.

Sementara satu wadah lagi, paling tidak kita adakan, di simpan di komputer kita, untuk menyimpan back-up data, data mentah sebelum di upload, simulasi untuk program aplikasi sebelum ditampilkan di website, dan sebagainya. Dan data di komputer kita ini, dari pengalaman saya, justru menyimpan jauh lebih banyak file dan data, daripada yang sudah tertampil di sisi hosting provider. Mau tidak mau, yang ada dalam wadah ini, sesekali waktu harus terkoneksi dengan internet, untuk melakukan upload download ke server di hosting provider. Sesekali waktu kita juga harus browsing mencari bahan update konten yang untuk sementara di download ke komputer kita sebelum diolah untuk bahan update website kita suatu saat kelak. Sehingga justru komputer di ‘wadah’ kedua inilah yang cukup kritis menjadi perhatian kita. Selain karena menyimpan data, praktis komputer ini dikelola oleh kita sendiri yang pengetahuan dalam hal malware tidak sehebat para webmaster di hosting provider.

Sampai di sini, juga seperti cerita saya di awal alenia tadi, sehingga berakhir pada keputusan dimana saya harus mem-format kembali hard-disk komputer saya beberapa hari lalu, kita akan bisa hanyut pada suasana yang mempersepsikan bahwa dunia internet, terutama aktivitas malware yang ada didalamnya adalah sebuah ancaman. Lalu pilihan apa yang tersisa bagi kita?

Apakah kita kemudian memilih untuk menghentikan saja usaha kita di internet? Kembali sebagai ‘brick and mortar’ mungkin? Pilihan ini saya analogikan sama dengan ketika kita belajar mengendara sepeda, kemudian jatuh dan memilih untuk tidak lagi pernah naik sepeda. Kita bisa memilih bersikap seperti yang dicontohkan teman saya dengan ekstra hati-hati dalam melakukan pekerjaannya terkait distribusi file dan data komputer. Dengan cara ini bagi anda yang memiliki usaha di internet, jadinya paling tidak perlu tiga wadah untuk mengalokasikan semua pekerjaan anda.

Tapi ada satu lagi kemungkinan. Dan justru kemungkinan ini yang bisa jadi ancaman-ancaman malware di internet akan memberi kita kekuatan. Seperti tubuh kita yang terserang virus justru meningkatkan antibodi tubuh kita yang menambah kekuatan. Tapi bedanya, antibodi yang terjadi bukannya secara otomatis muncul di komputer kita, tapi antibodi yang terjadi adalah berupa pengkayaan wawasan kita terhadap hal itu, keberanian kita untuk mengambil langkah usaha di internet, dan semakin meningkatkan kehati-hatian kita dalam berinteraksi di dunia maya. Yaitu pilihan untuk tetap berjalan!

Saya sempat harus melakukan pertimbangan yang panjang untuk mengambil keputusan memformat kembali hard-disk di komputer saya. Karena konsekuensinya, saya harus menata ulang kembali file-file data dan kerja saya selama sekian tahun yang jumlahnya mungkin mencapai puluhan ribu. Tapi setelah itu semua dilalui,.. selain laptop saya dalam bekerja dan terkoneksi seperti menjadi ringan, juga semakin memberi saya kekuatan, bahwa kendala apapun untuk melakukan usaha di internet bisa kita atasi bila kita konsisten untuk selalu melangkah…

*) 29 Juni 2009; Pitoyo Amrih - www.pitoyo.com - home improvement, bersama memberdayakan diri dan keluarga

Internet… Ancaman atau Kekuatan-kah? (Bag 2)

June 15, 2009 by admin  
Filed under Pitoyo Amrih

Seri Membangun Bisnis Dunia Maya (28)

Kita semua prihatin, ketika sejarah kehidupan budaya kita diisi oleh sebuah kejadian yang sebetulnya lucu, lucu karena secara nalar pikiran kita harusnya kejadian ini hanyalah sebuah dongeng satir yang disangat-sangatkan. Tapi sekaligus mengharukan. Mengharukan karena kejadian yang menurut sangkaan orang hanya sebuah cerita ini, ternyata benar-benar terjadi di kehidupan kita. Seorang konsumen, bernama bu Prita, yang berkeluh kesah atas pelayanan jasa yang diterimanya,.. eh, dalam waktu yang super cepat, masuk tahanan! Mungkin beliau tidak akan segera masuk bui bilasaja keluh kesah itu ditulis di media cetak, atau mungkin ditulis di selebaran-selebaran, atau mungkin lewat cerita dari mulut ke mulut. Kebetulan keluh kesah itu ditulis lewat e-mail. Dan semakin aneh, ketika sebuah undang-undang yang memayungi kegiatan dunia maya, dan seharusnya menjamin keamanan setiap warga negara melakukan kegiatannya di internet, justru menjadi alat untuk menjerat, sehingga membuatnya segera masuk tahanan.

Dalam sebuah wawancara di televisi, sebuah ungkapan polos dan terlihat berkas trauma yang dalam, beliau menyampaikan bahwa sampai saat ini masih trauma untuk menulis e-mail, bahkan masih merasa takut berkomunikasi via internet.

Walaupun akhirnya secara kolektif, negara dalam hal ini, menyadari kesalahannya dan dengan segera melakukan koreksi, dan buru-buru memberikan pernyataan bahwa pihak jaksa penuntut adalah sebagai oknum yang bertindak kurang profesional. Tetap saja memberi kita kesimpulan sementara, bahwa bisa jadi sebagian abdi negara, yang seharusnya melayani masyarakat kita, ada yang masih melihat dan setuju bahwa internet bisa menjadi sebuah ancaman! Dan ini sebenarnya sekaligus menjadi cermin bagi budaya masyarakat kita semua bahwa memang benar, ada sebagian masyarakat kita yang melihat bahwa internet adalah sesuatu yang ada di luar sana dan menjadi ancaman, bukan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari diri kita dan menjadi kekuatan. Anda bisa tengok artikel saya sebelumnya agar bisa lebih mudah memahami apa yang saya maksud, meminjam istilah ancaman dan kekuatan dari teorinya SWOT.

Sekali lagi harus saya katakan, kalau boleh saya mencoba secara ekstrim menggambarkan internet ini. Internet yang semula hanya ‘sekedar’ sebuah tools, saat ini sudah menjadi budaya dan bagian dari kehidupan. Dan pertumbuhan pengguna internet, kalau kita coba menengok dan membandingkan dengan bagaimana telepon tersosialisasikan, atau faximile yang berevolusi, budaya pengguna dan pengakses dunia maya bagai air bah yang mempengaruhi orang begitu cepat.

Tentunya akan jadi aneh bila kita masih juga tetap menganggap internet adalah sebuah ancaman, sesuatu diluar sana yang bisa merusak kondisi equilibrium perikehidupan kita. Seperti sebuah analogi air bah, bila sang air bah datang dan segera pergi mungkin tetap kita akan melihatnya sebagai ancaman, tapi bilasaja air bah itu tetap datang dan selalu menggenangi kita, maka pilihan bagi kita adalah berusaha menggeser paradigma kita dan dengan segera membiasakan diri dengan adanya air bah, mencoba memahaminya, belajar darinya, hidup bersamanya, memanfaatkan apa yang bisa dimanfaatkan darinya, dan menjadikan itu bagian dari diri kita, yang menjadi kekuatan dalam membantu keseharian kita. Tapi rupanya sebagian dari kita masih tergagap-gagap akan apa yang terjadi. Ketika sebagian orang sudah menganggap air bah sudah menjadi keseharian mereka, sebagian dari kita tidak juga kunjung merubah paradigma, dan tetap melihat internet sebagai sebuah ancaman akan kemungkinan bencana.

Ini seperti pengalaman saya dengan salah satu teman saya, yang waktu itu sekitar delapan tahun lalu mencoba mengawali untuk belajar tentang apa itu internet, e-commerce, pembuatan website dan sebagainya. Dia kebetulan adalah seorang brick and mortar, pelaku usaha yang cukup lumayan menekuni bisnisnya di dunia nyata, dan ketika itu, tertarik untuk mulai melebarkan usahanya masuk ke dunia maya. Mencoba menjadi brick and click atas usahanya. Sementara waktu itu, pada saat yang sama, saya dan istri saya, mencoba mengawali usaha di internet sebagai pure-player.

Waktu itu, tidak seperti saat ini, penyedia layanan hosting masih hitungan jari dan hanya dikuasai oleh perusahaan besar. Pengurusan nama domain juga masih dilingkupi perasaan harap-harap cemas, apakah benar pembayaran domain lewat kartu kredit via internet kepada siapa entah dimana, akan benar-benar mendapatkan nama domain secara legal. Saya dan teman saya sama-sama belajar. Tanya sana tanya sini, browsing sana browsing sini. Sampailah kemudian, ketika itu kita harus belajar membuat sebuah website.

Tidak seperti sekarang, yang banyak ditawarkan CMS (Content Management System) jadi yang tinggal pakai dan sangat user friendly seperti Joomla, Mambo, phpNuke, dan sebagainya, saat itu benar-benar seperti hutan. Sepertinya semua orang masih mengembangkan. Yang populer saat itu adalah pembuatan website dengan Microsoft Frontpage yang sudah pasti banyak orang terkendala oleh masalah lisensi. Sementara yang bersifat open-source dengan php, saat itu, masih bak jamur yang berwujud spora tumbuh di sana sini, menayangkannya di internet, dan tak ada yang mengklaim bahwa apa yang mereka buat siap pakai dan bisa langsung dimanfaatkan. Yang kemudian orang lakukan adalah, ambil sana, ambil sini sebagian, di kompilasi, tambahi modul program php untuk fungsi tertentu, ambil dari tempat lain lagi, dijadikan satu, sisip sana sisip sini, demikian seterusnya, sehingga jadilah sebuah website, yang mungkin juga lengkap dengan content management, yang sifatnya belum universal dan hanya bisa digunakan dan dimanfaatkan oleh sang pencipta sendiri.

Dalam situasi seperti itu, saya dan teman saya coba kembangkan sendiri segala apa yang kita dapat. Tiba-tiba, di tengah jalan, dia berhenti, “..susah.., .. udah mentok..”, demikian katanya ketika itu suatu ketika, saat menghadapi masalah bug pada program buatannya. Sejak itu kami hampir tak pernah ketemu. Dan saat ini, lebih dari enam tahun kemudian, saya mendengar bahwa teman saya itu, masih merasa nyaman berada di brick and mortar. Walaupun saat ini, sudah banyak program pembuatan website yang mudah, atau mungkin bagi dia tidak susah untuk memperkerjakan lulusan internet programmer untuk menjadikan usahanya sebuah brick and click.

Memang, bagaimana pun, apakah sebuah usaha akan juga merambah ke dunia maya atau tidak, tetap merupakan sebuah pilihan. Orang boleh saja mempertahankan usahanya dan maju tanpa harus masuk ke ‘pergaulan’ dunia maya. Tapi,.. bahkan bagi orang yang tidak melebarkan networking-nya di dunia maya pun, tidak seharusnya menjadikan internet sebagai sebuah ancaman. Sehingga ketika suatu saat ada orang yang merasa perlu untuk masuk terhubung menjadi komunitas di dunia maya, saat itu pula dia seharusnya sudah mulai menggeser paradigma-nya untuk menjadikan internet sebagai sebuah kekuatan. Sesuatu yang menjadi bagian dari dirinya, dan siap untuk mendapatkan manfaat darinya.

Sekitar enam tahun lalu, teman saya yang saya ceritakan di atas, sang brick and mortar, saat itu merasa belum berhasil melihat internet sebagai sebuah kekuatan, walaupun masih mending dia tidak sepenuhnya melihat bahwa internet sebagai sebuah ancaman. Tapi yang membuat sedikit agak prihatin, adalah bahwa saat ini, enam tahun kemudian, ternyata masih ada orang yang melihat internet, tidak hanya internet sebagai sesuatu hal yang menjadi bagian dari kekuatan, tapi lebih menyedihkan lagi, melihat komunikasi dunia maya sebagai sebuah ancaman. Sehingga harus membuat bu Prita menjalani kehidupan di tahanan. Yang berdampak kepadanya saat ini, untuk sementara waktu, bahkan bu Prita juga harus melihat internet –juga- merupakan hal yang mengancam ketenangan kehidupannya.

Saya hanya ingin menyampaikan, daripada kita sibuk berfokus pada hal-hal yang mungkin memberi ancaman atas interaksi kita di dunia maya, mengapa tidak kita coba mencari hal-hal yang bisa dimanfaatkan dan menjadikan internet sebagai kekuatan kita. Tapi mungkin tetap saja belum cukup, atas apa yang saya lihat pada sebagian besar masyarakat pengguna internet di negara kita. Rata-rata mereka tidak melihat internet sebagai sebuah ancaman, tapi sekian lama berinteraksi di internet, tidak kunjung juga mencari hal yang bisa bermanfaat atas interaksinya di internet, sehingga dapat memberi kekuatan.. baik dalam rangka pemberdayaan diri mereka, ataupun perbaikan dari sisi sosial ekonominya..

* Pitoyo Amrih; www.pitoyo.com - home improvement - bersama memberdayakan diri dan keluarga

Internet … Ancaman atau Kekuatan-kah? (Bag 1)

May 25, 2009 by admin  
Filed under Pitoyo Amrih

Terkadang, jarak antara ancaman (baca: Threat) dan kekuatan (baca: Strength) memang begitu tipis. Dan kita bisa melihatnya dari mana saja kaca mata akan kita tempatkan. Saya yakin anda sependapat dengan saya terutama bagi anda yang pernah mencoba memahami makna akan pemetaan SWOT (Strength-Weakness-Oportunity-Threat). Strength atau kekuatan, dan Weakness atau kelemahan, adalah sesuatu yang berada pada lingkup diri kita, apa yang ada pada lingkup lingkaran pengaruh kita, kalau saya boleh meminjam istilahnya Stephen Covey. Sedang Oportunity atau kesempatan, dan Threat atau ancaman, adalah sesuatu diluar sana, di luar diri kita yang bisa jadi akan memberi dampak ke kita, dampak baik akan memberi kita kesempatan, potensi dampak buruk adalah sebuah ancaman.

Saya tidak akan terlalu jauh bicara mengenai SWOT sendiri, karena saya yakin setiap orang bisa memetakan dan merenungi setiap SWOT bagi dirinya, dari sisi mana pun kita memandang. Apa yang saya sampaikan diatas mengenai jarak yang begitu dekat –sehingga terkadang kita susah membuat batas jelas diantaranya- antara ancaman dan kekuatan, adalah apa yang pertama kali muncul di benak saya akan maraknya pro dan kontra jejaring sosial di dunia maya. Ide pertama kali muncul menggema dan banyak dikenal anak muda melalui friendster.com. Diikuti kemudian oleh banyak pengekornya dengan ide unik yang ditawarkan, dengan segmen pasar dan member yang di-‘lebih kentara’-kan. MySpace.com, kemudian Goodreads.com pada jejaring penyuka buku, Flixter.com bagi para maniak film, Linkedin.com untuk –dimaksudkan- para profesional, dan banyak lagi lainnya, jejaring pertemanan yang mungkin hanya pada member terbatas, sampai yang menjangkau wilayah antar negara.

Ketika era gema pertemanan di friendster.com terdengar dimana-mana, sepertinya hal ini tidak begitu memberi ancaman bagi kita semua. Karena kalau ditelisik, ‘pasar’ atau member friendster kebanyakan adalah para remaja. Pelajar, atau paling pol mahasiswa. Mungkin satu dua ada juga para profesional, tapi rata-rata mereka menjadi malu sendiri ketika disadari bahwa yang mendominasi para friendster ternyata adalah para remaja dibawah usia tiga puluhan.

Tapi kali ini muncul era baru bagi function engine sejenis … Facebook.com! Dan gaungnya ternyata lebih hebat dari sekedar yang terjadi pada eranya friendster beberapa waktu lalu. Modul dan komponen pada Facebook lebih lengkap. Aplikasi yang terpasang disana lebih user-friendly, bahkan setiap member bisa membuat aplikasi sendiri. Dan yang lebih menarik, entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba dengan facebook.com ini, orang cenderung untuk menampilkan dirinya sendiri. Kalau dulu, tampil di jejaring dunia maya, orang-orang lebih suka memakai foto avatar, dan ungkapan yang disampaikan pun terkesan polesan. Di facebook, entah awalnya bagaimana, terasa lebih ‘ngeh’ kalau foto yang ditampilkan adalah foto diri yang sebenarnya, dan ada fasilitas wall di sana, di mana semua orang tiba-tiba menjadi jujur dan mudah untuk berbagi, bahkan kepada orang yang sama sekali belum pernah dijumpainya!

Kehebohan ini ditopang oleh berita-berita yang mengulas tentangnya di luar internet. Di TV, tak habis-habisnya orang bicara tentang facebook. Bahkan ada sebuah acara talkshow salah satu stasiun televisi, yang dihadiri nara sumber yang hampir semua adalah anggota dewan terhormat, dan sepanjang acara bicara tentang facebook! Belum lagi ulasan di koran, tabloid-tabloid, beberapa majalah. Membuat facebook semakin dikenal, orang yang belum bergabung menjadi merasa ketinggalan, mereka berbondong-bondong menjadi member-nya, dan berusaha merasa asik dengannya.

Hal inilah yang kemudian membuat sebagian khalayak menjadi merasa gerah karenanya. Sebuah budaya yang datang begitu tiba-tiba, gegap gempita, dan membuat sebagian dari kita tergopoh-gopoh dan sebagian lagi merasa curiga. Terjadi pada para bos dan pemilik perusahaan pada karyawan-karyawan mereka, terjadi pada para pengelola sekolah terhadap tenaga guru mereka, kecurigaan yang menjangkiti suami atau istri terhadap pasangan-pasangan mereka.

Menurut saya, facebook tetaplah facebook. Bagi Mark Zuckenberg sendiri, dipuja ataupun dicerca, dia tetap tersenyum, karena facebook baginya adalah sebuah tempat berkarya dan sumber penghasilan. Dan semua itu tetap berpulang kepada kita apakah kita akan melihatnya sebagai ancaman? Atau sebuah kekuatan? Yang menurut saya menjadi aneh dan berlebihan, ketika saya mendengar berita terbaru hari ini, bahwa ada sebuah pertemuan pengelola sebuah pondok pesantren di Jawa Timur yang sampai harus mengeluarkan fatwa haram kepada facebook!

Bagi sebuah pemilik perusahaan, karyawan –seharusnya- adalah sebuah kekuatan. Lalu ketika definisi itu saya perlebar, karyawan yang ber-facebook (menjadi member facebook), karena facebook itu bisa dimana saja, via notebook, mobile-phone, komputer terhubung di meja kerja, dan tidak mungkin setiap pengusaha harus menyediakan sumber daya untuk memelototi kerja karyawannya selama jam kantor, akankah sang karyawan ini –masih- menjadi kekuatan, atau mulai berubah menjadi ancaman? Dan lucunya, seperti terminologinya, kekuatan adalah sesuatu yang ada di dalam lingkup lingkaran pengaruh kita, sedang ancaman adalah sesuatu yang ada diluar sana –yang mungkin tidak bisa kendalikan-. Sang pengusaha akan tetap melihat sang karyawan –ber-facebook- sebagai kekuatannya, ketika mereka melihat si karyawan –masih- sebagai bagian dari dirinya. Dan akan mulai menganggapnya sebagai ancaman ketika justru melihat si karyawan sudah mulai berada di luar lingkup lingkaran pengaruhnya. Logika ini bisa dibalik dan sama keadaannya ketika karyawan yang merasa perlu –bukan karena ingin- menjadi member facebook, melihat bos mereka sebagai kekuatan –tetap berada dipihaknya-, atau sebagai ancaman –orang yang selalu mengawasi gerak-geriknya-.

Ini seperti ketika kita mendengar ada sebuah berita di Inggris, dimana seorang istri menggugat cerai suaminya, gara-gara, sang suami menghapus profile ‘married’ di account facebook-nya. Kita mungkin tidak bisa secara akurat menilai kejadian ini, karena kita tidak tahu persis kejadian sebenarnya dan bagaimana hubungan sang suami istri itu sebelum mereka memiliki account facebook. Sehingga, apakah ancaman itu memang muncul ketika mereka berfacebook ria, atau sebenarnya mereka sudah saling merasa terancam sebelumnya.

Seperti yang sudah saya sampaikan di atas, facebook adalah facebook. Kita tidak bisa mengisolasi diri kita terhadap teknologi. Hanya tantangannya kemudian adalah, bagaimana sebuah kekuatan –potensi yang kita miliki- akan tetap menjadi kekuatan, dengan atau tanpa facebook. Dan bilasaja suatu saat kita menganggap pada sebuah sudut pandang tertentu, teknologi sebagai ancaman, maka justru tantangannya adalah bagaimana kita semakin memaksimalkan kekuatan -dari dalam lingkaran pengaruh- kita untuk bisa meminimalkan ancaman –dari luar diri kita-. Hmm, ..terdengar klasik memang, seperti teorinya SWOT, tapi memang begitulah esensinya.

Dan diantara berita miring itu, saya masih mendengar ada seorang karyawan yang dipercaya perusahaannya, dan sang karyawan begitu memegang teguh kepercayaan yang diberikan kepadanya. Dan yang terjadi adalah, sang karyawan sebagai member facebook, berupaya memaksimalkan segala aplikasi dan fasilitas di facebook untuk memajukan dan mempromosikan produk perusahaan tempatnya berkerja. Dia membentuk group yang memfasilitasi komunikasi para konsumennya, mendiskusikan kelebihan produknya, dan menerima komplain bilasaja ada konsumen yang kecewa. Dia memanfaatkan modul-modul advertising di facebook, yang bagi sebuah perusahaan besar, promosi banner di jejaring ratusan juta member itu, biaya pay-per-click yang ditawarkan seperti tak ada artinya. Dia juga membuat company profile di facebook sebagai representasi dari perusahaan tempatnya bekerja. Dan hebatnya, dia seolah selalu menjadi advertiser di setiap wall-nya, komentar-nya, foto-foto dan video yang di-uploadnya.

Guru-guru di sekolah anak saya, juga membentuk jejaring, yang setiap saat mereka selalu menyapa kita para orang tua, terkadang memberi masukan tentang bagaimana anak kita di sekolah. Sesekali juga pernah mengingatkan sekali lagi akan tugas-tugas yang harus dibawa anak-anak besok harinya di sekolah. Atau saya perhatikan, salah satu teman saya di facebook kebetulan adalah seorang dosen. Beliau begitu membuka diri terhadap para mahasiswa-nya dan dia memanfaatkan betul facebook sebagai media komunikasi dengan para mahasiswa-nya. Seolah dengan facebook mereka berusaha menambal lubang-lubang komunikasi mereka di kampus, yang terkadang terkendala oleh kekakuan budaya antara seorang dosen dengan mahasiswanya. Dari sisi pandang ini, saya melihat internet akan semakin memberi kekuatan kepada kita, tinimbang kecurigaan kita yang menganggapnya sebagai sebuah ancaman.

Cerita diatas adalah contoh bagaimana kita melihat internet dari sisi sosial budaya. Tentunya bila kita memandang internet sebagai salah satu ‘ladang’ kita bercocok tanam untuk membuka usaha, akan semakin besar tantangan buat kita untuk membuatnya sebagai bagian dari kekuatan. (bersambung)

* Pitoyo Amrih; www.pitoyo.com - home improvement, bersama memberdayakan diri dan keluarga

Yang (Pasti) Ramai Dikunjungi adalah yang Heboh?

April 27, 2009 by admin  
Filed under Pitoyo Amrih


Seri Membangun Bisnis Dunia Maya (26)

Pernah seseorang menyindir dengan kalimat yang agak satir, yang mengatakan bila anda seorang penulis buku atau pembuat film, maka ketika anda inginkan pada debut pertama, sebagian besar orang akan segera menoleh kepada karya anda, maka hanya ada dua kemungkinan: yang pertama adalah, anda membuat karya anda begitu bagusnya, sehingga orang akan langsung terkesan dan berdecak kagum sehingga orang akan langsung suka kepadanya, atau anda membuat karya anda itu begitu mengundang banyak kontroversi sehingga orang dengan segera akan membencinya. Walapun mungkin terdengar seperti sebuah sindiran, tapi bila kita coba berkaca terhadap karya-karya intelektual saat ini, maka kalimat diatas sepertinya bisa dianggap sesuatu yang ‘memang faktanya demikian’.

Kemungkinan pertama, jelas amat sangat susah. Bahkan menurut saya, hanya ada pada orang yang memiliki talenta yang luar biasa, ditambah pada kemunculan pada saat yang tepat. Dan kemungkinan itu pun bisa jadi satu juta dibanding satu. Tapi hal ini sudah terbukti. Kalau misalnya saya boleh memperluas pengertian karya, juga termasuk orang-orang yang berprofesi sebagai ‘performing-art’, maka orang seperti Susan Boyle, mungkin termasuk sebagai salah satu diantara sejuta itu. Dan ‘kemunculan saat yang tepat’ baginya bisa didefinisikan dengan ekspektasi paradoks yang ada padanya. Orang yang belum pernah mendengar dia menyanyi cenderung memandang rendah kepadanya, ketika melihat penampilannya.

Kemungkinan kedua, jauh lebih mudah. Anda tinggal membuat sesuatu yang mengandung kontroversi, maka semua mata akan berpaling. Semakin memiliki kontroversi, semakin cepat orang berpaling kepada anda. Apalagi kalau karya anda cukup membuat sebagian orang tadi merasa senang secara berlebihan, atau bahkan merasa benci yang amat sangat. Tapi menurut saya, hukum alam berlaku, sesuai kata pepatah “..easy come, easy go..”. Semakin cepat atau mudah orang banyak menoleh kepada anda, biasanya semakin cepat dan mudah pula orang itu memalingkan pandangan dari anda.

Menurut saya, analogi ini rupanya bisa berlaku juga bagi sebuah situs di internet, yang selain memuat informasi, juga hampir selalu berisi karya intelektual seseorang, baik itu berupa tulisan, gambar, video, film, dan sebagainya.

Pernahkah anda sadari, kontroversi kejadian pelemparan sepatu seorang wartawan Muntazer al-Zaidi, kepada George W. Bush yang ketika itu masih menjabat presiden Amerika. Sehari setelah itu, ribuan situs menampilkan pemberitaan itu, ribuan situs menampilkan tag kejadian itu sebagai perangsang agar banyak orang berkunjung ke situs mereka. Bahkan banyak situs kemudian menawarkan game-game kreatif yang mengambil ide dari kejadian itu. Youtube.com yang kemudian juga menayangkan video kejadian itu, dari upload beberapa membernya, juga kebanjiran puluhan juta pengunjung hanya dalam hitungan hari!

Kreativitas penyelenggara Narsis.tv, bagi saya juga mengandung upaya menjaring pengunjung, dengan cara menciptakan kontroversi-kontroversi, yang lebih banyak unsur positifnya. Mereka membuat situs uploader video, yang menampung semua video pengunjung dengan daya tarik ‘senarsis mungkin’ sehingga cukup menyedot pengunjung terutama dikalangan remaja untuk mengupload film buatan mereka, yang atas rating –yang juga- berdasar pilihan pengunjung, beberapa yang menduduki ranking tertinggi akan ditayangkan pada sebuah acara di salah satu stasiun televisi. Dan dalam waktu singkat situs ini pun dikunjungi begitu banyak orang. Saya yakin dalam waktu dekat, ide serupa akan diikuti oleh penyelenggara acara lain, yang merangkul stasiun televisi lain. Seperti yang biasa terjadi, yang laku akan banyak diikuti.

Kontroversi yang menjurus negatif pun banyak juga dijadikan jalan pintas para pemiliki situs, misal dengan memanfaatkan kontroversi berita tentang si selebriti anu yang selingkuh dengan si itu, atau foto-foto syur selebriti lain, entah itu palsu atau asli. Yang ketika berita itu meledak, yang biasanya dipicu oleh media elektronik dan cetak, langsung buru-buru banyak pemilik situs yang memasukkan ‘tags cloud’ kisah itu, dengan harapan situs tersebut segera terjaring oleh search engine.

Seperti yang saya sampaikan diatas, karena kemungkinan kedua ini sangat mudah dilakukan daripada kemungkinan pertama, maka kemungkinan kedua inilah yang kemudian banyak dipilih, untuk menjadi jalan pintas yang cukup instan demi menjaring pengunjung situs dalam waktu singkat. Semakin kontroversi, akan semakin cepat petumbuhannya, semakin heboh, akan semakin cepat lagi pertumbuhannya. Karena heboh bisa berarti, kemudian akan ditayangkan oleh media lain selain internet, dan begitu ditayangkan media lain, maka pengunjung situs pun akan semakin tambah banyak lagi.

Tapi kembali perlu saya ingatkan mengenai ‘..easy come easy go..’ tadi. Semakin mudah dalam waktu singkat orang berkunjung dalam jumlah banyak, sebenarnya semakin membutuhkan tantangan kita bagaimana membuat sebuah situs itu berkualitas. Berkualitas berarti apa yang ditawarkan, tidak hanya apa yang sekedar membuat heboh tadi, tapi juga ada hal-hal pada kemungkinan pertama di sana. Sehingga jangan sampai situs kita justru ‘layu sebelum berkembang’. Saya sendiri lebih cenderung untuk menyukai kunjungan situs yang gradiennya naik secara biasa, tapi terus naik, daripada, sebentar-sebentar naik sangat tinggi, kemudian turun tajam, saat yang lain naik tinggi lagi, turun drastis lagi, sehingga bisa jadi lambat laun orang akan menyadari bahwa situs seperti ini akan dianggap sebagai sebuah situs yang oportunis mengail kunjungan, daripada situs yang secara serius berupaya membangun komunitas.

Saya mungkin bisa bercerita sedikit mengenai kota tempat tinggal saya yang menurut saya cukup istimewa dalam hal bermacam ragam kulinernya. Entah berawal dari orang Solo, yang suka bereksperimen membuat makanan yang banyak macam ragamnya, atau memang rata-rata orang Solo yang lebih suka makan di luar dari pada di rumah, yang jelas pertumbuhan tempat makan di kota Solo begitu tinggi. Walaupun belum ada yang secara tepat mendata secara akurat, tapi hampir semua yang saya tanya sepakat terhadap kesimpulan saya tadi.

Setiap tempat makan yang baru dibuka di Solo, biasanya langsung diserbu begitu banyak pengunjung. Apalagi bila saat buka itu juga disertai kampanye yang cukup lantang, buat spanduk, leaflet, brosur, banner-banner, dan sebagainya.

Tapi sekian lama saya tinggal di Solo, saya melihat bahwa tidak begitu banyak tempat makan yang bertahan langgeng cukup lama, kecuali mereka yang memang menawarkan diferensiasi yang membuat orang ingin kembali berkunjung makan di sana. Sementara sisanya, tak lebih dari orang yang sekedar datang sekali untuk ingin tahu, dan tak ada lagi kebutuhan untuk datang lagi ke sana.

Tentunya kita bisa belajar dari fenomena itu. Kita boleh-boleh saja membuat kehebohan-kehebohan pada situs kita, tapi tetap upaya dasar untuk membangun pondasi yang mantap terkait konsep yang kita tawarkan atas halaman web kita, memberikan nilai tambah yang sifatnya langgeng, dan bermanfaat bagi banyak orang…

27 April 2009, Pitoyo Amrih. www.pitoyo.com - home improvement; bersama memberdayakan diri dan keluarga

Online Store, Antara Mimpi dan Kenyataan (IV-habis)

April 6, 2009 by admin  
Filed under Pitoyo Amrih

(sambungan artikel sebelumnya)
Ketika orang butuh barang, memiliki uang untuk mendapatkan barang tersebut, kemudian mengunjungi toko yang menjual barang tersebut, selama harga barang yang dijajakan bagi sang calon pembeli ini dirasa wajar, maka tahapan yang kemudian normal dilakukan orang tentunya membeli barang tersebut. Bila transaksi itu dilakukan pada online store, maka sebagian besar akan selalu menggunakan tata cara ‘cash in advance’ – bayar dulu baru barang dikirim-. Memang beberapa online store juga memberikan opsi tata cara ‘cash on delivery’ – barang kirim baru dibayar langsung kepada sang kurir-, tapi untuk opsi ini, saya yakin bukanlah opsi yang akan mendominasi transaksi, karena tentunya terbatas kepada area-area yang terjangkau oleh tenaga pengirim yang sekaligus menjadi ‘collector’.

‘Cash in advance’ akan menempatkan para pengusaha online store pada posisi yang aman, sebaliknya bagi pembeli adalah sebuah resiko yang harus diambil demi mendapatkan barang yang dibeli melalui internet. Hal inilah yang kemudian menjadi tantangan kelima bagi toko online, setelah sang pembeli melakukan transaksi dan melakukan pembayaran.

Proses inisiasi untuk melakukan pengiriman barang sendiri bisa dilakukan secara otomatis. Tinggal diprogram sebagai bagian integral dari webstore. Seperti misal pada webstore saya di http://webstore.pitoyo.com . Setelah sang pembeli melakukan konfirmasi pembelian dengan cara check-out untuk melakukan rekapitulasi dari semua belanja-nya, maka setelah dia mengisi tujuan pengiriman, otomatis akan muncul total berapa biaya yang harus dibayar atas semua barang yang dibeli. Setelah dikonfirmasi, artinya sang pembeli otomatis memberi kepastian kepada saya sebagai penjual bahwa dia memang memesan barang tersebut. Klik konfirm, sekaligus akan mengaktifasi secara otomatis, nota yang terkirim ke alamat e-mail pembeli. Dalam nota tersebut juga ada tata cara pembayaran dan tata cara konfirmasi pembayaran. Sehingga hanya dengan berbekal informasi dari email tersebut, sang pembeli bisa melakukan pembayaran dan konfirmasinya. Setelah konfirmasi pembayaran dilakukan, maka akan datang e-mail otomatis ke mailbox webstore saya sebagai penjual, daftar barang yang dibeli beserta alamat tujuan pengiriman. Dari info mail ini, saya tinggal lakukan cross-check ke rekening bank yang bisa juga dilakukan via online. Setelah pembayaran memang telah diterima, saya tinggal print mail tadi yang juga berfungsi sebagai kwitansi pembayaran dan lembar alamat tujuan yang ditempel dalam paket, untuk kemudian perintah kemas barang dan pengiriman.

Semuanya tampak mudah dan serba otomatis, artinya dari sisi kita sebagai penjual, dengan sistem diatas, sudah hampir tidak mungkin sampai terjadi seorang pembeli yang sudah melakukan pembayaran tapi luput dari agenda pengiriman barang.

Tapi bayangkan kita sebagai sang pembeli. Tentunya bisa dipastikan hampir semua pembeli tidak paham betul bahwa sistem online store yang juga dibangun untuk menangani fungsi transaksi (e-sales), akan selalu terjamin bahwa setelah proses pembayaran, sistem akan selalu melakukan proses pengiriman. Kebanyakan dari mereka akan harap-harap cemas, akankah setelah saya membayar, barang benar dikirim?

Inilah sebuah tantangan bagi pemiliki online store, walaupun semua sistem tampak otomatis, dan jaminan terkirim itu pasti ada, untuk tetap memegang semangat bahwa barang akan terkirim secara tepat waktu, tepat jumlah, tepat tujuan, dan tepat mutu (dalam arti bahwa kualitas barang yang datang sesuai dengan ekspektasi pembeli, dengan kata lain sesuai yang dijanjikan oleh penjual yang tertera pada toko online), maka upaya ekstra tetap harus dilakukan.

‘Tepat waktu’ bagi pengusaha online store bisa diartikan bisa memilih jasa kurir secara tepat. Saat ini banyak sekali bermunculan perusahaan jasa pengiriman barang dengan segmen mereka masing-masing. Semakin banyak penawaran, menuntut semakin tinggi kejelian dalam memilih. Dan bisa jadi setiap kondisi memiliki segmen tersendiri bagi perusahaan jasa kurir. Sebagai contoh, bisa jadi distribusi barang di dalam propinsi dan di luar propinsi, dalam hal kecepatan, belum tentu perusahaan kurir A akan selalu unggul dibanding perusahaan kurir B. Bisa terjadi pada kondisi pengiriman dalam satu propinsi, kurir A lebih unggul dibanding kurir B, sementara pada pengiriman antar propinsi kurir B lebih cepat. Pertimbangan akan harga juga harus jeli. Belum tentu yang mahal itu pasti tepat waktu.

‘Tepat jumlah’, artinya setiap pengusaha online harus punya mekanisme internal yang menjamin double-check bahwa barang yang dibeli baik item maupun jumlah masing-masing item, adalah sesuai dengan permintaan pembeli. Bagi brick-and-clicker yang memang sudah mengawali usahanya di toko nyata, tentunya akan jauh lebih mudah, karena mereka biasanya sudah memiliki sistem yang teruji dalam transaksi off-line mereka. Mereka memiliki jam terbang yang cukup yang menjamin bahwa setiap barang yang dikemas pasti sesuai dengan barang yang dibeli. Tapi terutama bagi pure-player hal ini harus menjadi perhatian sungguh-sungguh. Bila volume penjualan masih sedikit tentunya kesalahan lebih sedikit kemungkinannya. Tapi seiring dengan waktu bila volume penjualan meningkat, hal-hal yang tadinya mampu ditangani, bisa jadi akan semakin kewalahan dalam hal memastikan ketepatan jumlah ini.

‘Tepat tujuan’ adalah barang yang dipesan memang dialamatkan pada tujuan yang sesuai seperti kemauan pembeli. Hal ini juga harus menjadi perhatian. Mungkin tidak begitu menjadi kendala bila tempat tujuan adalah alamat sang pembeli. Tapi online store sebaiknya juga memungkinkan pengiriman ke alamat tujuan yang bukan pembeli. Misalnya ada seorang pembeli yang akan membelikan pacarnya sebagai hadiah kejutan dan sebagainya. Nah, dari pengalaman, saya rasakan sendiri bahwa bila alamat tujuan pengiriman berbeda dengan alamat identitas pembeli, hal ini akan menimbulkan kerumitan tersendiri. Tidak jarang saya harus melakukan konfirmasi alamat ulang kepada pembeli sebelum barang dikirim, baik melalui telepon, SMS atau mail. Tapi tentunya, setiap kita menghubungi pembeli bisa diartikan sebagai sebuah kekurang-profesionalan sistem kita. Dan lagi, sangat tidak mungkin kita melakukan konfirmasi sebelum pengiriman ke si calon penerima barang, bila alamatnya beda dengan identitas pembeli. Karena menjadi tak lucu bila ternyata paket itu direncanakan sebagai sebuah hadiah kejutan.

Sementara ‘tepat mutu’ adalah juga keharusan yang akan menguji integritas kita dalam mengkomunikasikan kualitas produk kita di toko maya ini. Karena pada dasarnya, hambatan paling nyata pada displai barang di internet adalah, bahwa sang pembeli tidak bisa meraba barang, melihat secara nyata, bahkan mencium baunya mungkin. Sang pembeli hanya tahu informasi barang dari gambar, video mungkin, dan membaca spesifikasi yang tertera. Besar kemungkinan yang tertangkap oleh mata pembeli melalui layar PC, akan direkam dan dipersepsikan secara beda oleh pikiran pembeli, yang akan berpotensi bahwa dia akan menerima barang yang tidak sesuai dengan harapannya.

Harapan kita sebagai penjual tentunya sang pembeli, pada hari yang sudah diperkirakan sebelumnya, akan menerima paket, membukanya dan mendapati bahwa semua barang yang diterimanya sesuai dengan harapannya. Dan kondisi baik ini akan selalu diikuti dengan meningkatnya tingkat kepercayaan sang pembeli, yang akan mempermudah keputusan untuk membeli di toko kita kali berikutnya.

Penggambaran di atas, saya berasumsi bahwa program transaksi sudah dapat melakukan hal-hal yang menjamin sistem berjalan seperti diatas. Tentunya upaya lebih perlu dilakukan bila online store kita belum mendukung sistem otomatis. Ketika orang memesan harus kirim email dan membuat sendiri daftar barang yang harus dibeli. Sang pembeli diminta menjumlah sendiri harga barang-barang yang mereka beli. Kemudian sang pembeli harus email alamat tujuan. Pada pesanan kedua harus email lagi untuk info alamat tujuan, karena sistem tidak mendukung simpanan database pelanggan. Kemudian setiap saat secara manual sang penjual harus info nomor rekening tujuan transfer. Dan seterusnya secara manual. Satu dua pesanan mungkin tidak masalah, tapi lebih dari itu, resiko keliru semakin besar, dan tanpa antisipasi sebelumnya, maka cepat atau lambat kita bisa jadi justru akan mengecewakan pelanggan. Sesuatu yang seharusnya bisa kita cegah!

6 April 2009
Pitoyo Amrih
www.pitoyo.com - home improvement
bersama memberdayakan diri dan keluarga

Online Store, Antara Mimpi dan Kenyataan (III)

March 16, 2009 by admin  
Filed under Pitoyo Amrih

Sebuah toko, sebagus apa pun itu, butuh untuk dikunjungi agar muncul kemungkinan produk yang dijajakan akan dibeli orang. Demikian juga toko online. Agar produk yang dipampang dibeli orang, butuh tahapan agar orang tahu keberadaan toko online itu, kemudian setelah tahu, tahapan berikutnya adalah bagaimana agar orang datang berkunjung. Setelah berkunjung, ada lagi tahapan agar orang yang sudah berkunjung merasa perlu untuk suatu saat mengunjungi lagi toko online itu. Dan tentunya tahap berikutnya, harapannya orang yang selalu berkunjung tadi suatu saat akan membeli produk yang dijajakan. Inilah yang kemudian menjadi tantangan yang keempat bagi para ‘pure-player’ maupun ‘brick and clicker’.

Tahapan agar orang tahu keberadaan toko online, sepertinya akan sedikit lebih mudah bagi para ‘brick and clicker’. Bahkan akan jauh lebih mudah bila mereka sudah memiliki brand-awareness yang cukup baik di dunia nyata. Seperti sudah pernah saya ceritakan pada artikel saya dulu, bahwa ‘brick and clicker’ adalah para pengusaha yang menjalankan brand sebuah produk yang sama, baik di dunia nyata ataupun di dunia maya. Dan konotasi ‘brick and clicker’ banyak dipersepsikan bahwa sang pengusaha mengawali usahanya menjual produk secara off-line, baru kemudian dengan produk yang sama melebar merambah dunia maya, tanpa harus mengurangi intensitas usahanya di dunia nyata. Sehingga bagi mereka yang sudah memiliki brand cukup bagus di dunia nyata, tentunya memiliki kemungkinan lebih besar orang akan tahu keberadaan toko itu di dunia maya. Pun juga memiliki kemungkinan lebih besar untuk tahapan berikutnya, yaitu orang berkunjung ke toko online tersebut.

Seperti contoh misal beberapa penerbit buku yang memang sudah berjaya di dunia nyata, semacam Gramedia dengan sekian banyak anak usahanya, atau Penerbit Erlangga. Ketika mereka kemudian saat itu buru-buru mendaftarkan brand mereka baik di dotcom maupun co.id, maka seolah toko mereka pun seperti begitu saja berada di ‘jalan raya’ yang akan dilalu-lalangi banyak orang, karena nama-nama itu begitu melekat di kepala khalayak sebagai penerbit buku dengan segmen khas mereka masing-masing.

Atau contoh beberapa pelaku usaha nyata di pusat elektronik glodok, atau pusat grosir garmen tanah abang, yang sengaja mendaftarkan nama domain mereka dengan memberi embel-embel ‘glodok’ ataupun ‘tanah-abang’, demi sebuah lompatan agar orang serta merta mengenal mereka di dunia maya.

Lalu bagaimana dengan pure-player yang nyata-nyata belum memiliki awareness yang cukup untuk usaha mereka baik di dunia nyata maupun dunia maya? Atau para brick-and-clicker yang memang, usaha nyata mereka belum memiliki brand yang matang ketika mereka melebarkan usahanya menjadi online store? Tahapan mengenalkan usaha mereka agar orang tahu, sebenarnya sama dengan sebuah upaya membangun brand-awareness pengusaha konvensional di dunia nyata. Hanya mungkin, para pelaku usaha online-store, bisa memiliki lebih banyak kemungkinan untuk mempercepat dan mempermudah proses membangun brand tersebut, selama mereka bisa selalu memutar otak untuk inovatif dan kreatif.

Membangun tahapan agar orang kenal, bisa diawali dengan cara ikut didalam sebuah jaringan atau membangun jaringan itu sendiri. Dan dunia internet saat ini seperti semakin mudah saja orang membangun sebuah jaringan. Bisa melalui jaringan pertemanan, macam Friendster, Facebook, Myspace, Goodreads, Flixter, tentunya dengan segmennya masing-masing. Disanalah para pelaku usaha online store bisa mengenalkan usaha mereka. Kemudian bisa juga dengan cara mengikuti milis-milis, iklan di berbagai situs penyedia layanan iklan. Hanya saja perlu berhati-hati, bahwa mengenalkan usaha kita di internet apa pun caranya seperti analogi kita berteriak-teriak di sebuah keramaian. Ketika kita berteriak, pada tahap tertentu akan menarik perhatian orang untuk tahu lebih banyak. Tapi tahap berikutnya bila kita tidak bisa melihat situasi dan kondisi, bisa jadi teriakan kita akan dirasakan sebagai gangguan. Spam dan semacamnya, pada dasarnya adalah predikat bagi mereka yang terlalu banyak berteriak-teriak.

Cara lain adalah seperti yang pernah saya utarakan pada artikel terdahulu mengenai strategi SEO, Search Engine Optimization. Sebuah upaya bagaimana kita bisa bersahabat dengan situs mesin pencari sehingga untuk keyword-keyword tertentu bisa dengan mudah terjaring oleh indexing mereka.

Bisa juga selain kita memiliki online store dengan nama situs milik kita sendiri, kita bisa juga ‘membuka’ gerai toko kita pada online store kolektif yang sekarang juga banyak bermunculan. Online store kolektif, analogi dunia nyata seperti layaknya sebuah mall. Dimana tentunya lebih banyak kemungkinan orang berkunjung di sana, karena sifatnya yang ‘serba ada’. Dengan membuka halaman situs di pasar online kolektif ini, kita bisa mengenalkan produk kita, dimana bisa kita pasang di sana link yang akan mengarah ke toko kita sesungguhnya. Di online store kolektif kita bisa saja hanya memasang beberapa produk kita, untuk kemudian pengunjung di halaman ini bisa langsung diarahkan menuju ke toko online milik kita sendiri yang tentunya berisi katalog produk yang lebih lengkap. Pasar online kolektif yang cukup terkenal misalnya Ebay atau Alibaba.com, atau khususnya buku dan stationary-gadget bisa di Amazon.com. Yang lebih luas lagi segmennya, adalah misalnya DinoMarket, yang walaupun masih relatif baru, para pelaku usaha online semakin banyak saja yang bergabung di sini.

Ketika orang kenal kemudian berkunjung ke toko online kita, apakah itu sudah cukup? Tidak! Kita mungkin sepakat bahwa kunjungan seseorang ke sebuah toko untuk pertama kalinya, kemungkinan untuk membeli bisa jadi sangat kecil. Ketika orang kemudian berkehendak mengunjungi toko ini kedua kalinya, disanalah ketika si toko memperlihatkan kualitas tampilan tokonya secara konsisten, kemungkinan membeli itu akan semakin meningkat. Dan kemungkinan itu akan semakin meningkat pada kunjungan-kunjungan berikutnya. Sehingga ketika kebutuhan atau keinginan membeli itu muncul, maka transaksi bisa jadi hanya masalah waktu.

Sehingga pertanyaan pada tantangan keempat ini, adalah sesuai tahapan berikutnya, bagaimana agar orang akan selalu berkunjung ke toko kita? Ini juga sebuah tantangan yang tidak mudah. Sebagian online store memasang modul-modul tambahan yang membuat para pengunjung merasa perlu untuk berkunjung lagi ke toko tersebut. Misal dengan menambah modul berita yang selalu diupdate, berisi berita-berita yang memiliki relevansi dengan produk-produk yang dijual, yang tentunya harus diungkap secara menarik sehingga pengunjung merasa perlu untuk datang lagi. Ada juga dengan memasang modul membership dengan privilage tertentu yang bisa membuat orang tertarik untuk datang lagi.

Sebagian lagi menyertakan engine di online store mereka yang bisa memberikan notifikasi secara otomatis masuk ke e-mail para pengunjung itu, yang berisi hal-hal baru dan menarik untuk memancing mereka berkunjung kembali. Atau sebagian lagi memasang program RSS Feed untuk memudahkan para pengunjung selalu mendapat informasi baru setiap online store di-update.

Kemudian tahapan berikutnya, yang klasik terjadi pada setiap toko tidak hanya online store, tapi juga toko nyata, yaitu para pengunjung itu membeli dan suatu saat ketika ada kebutuhan, membeli di toko kita kembali. Tahapan ini akan banyak terbantu bila kita menerapkan ilmu-ilmu konvensional sebuah toko, misalnya jaminan atas kualitas barang, kualitas layanan, jaminan pengiriman barang, after sales support. Seperti layaknya sebuah usaha konvensional, seseorang akan kembali membeli ketika kita dinilai mampu memberikan produk kita secara tepat mutu, tepat jumlah dan tepat waktu, dan tak kalah pentingnya tepat dalam memilih strategi layanan purna jual…
(bersambung)

*Pitoyo Amrih
www.pitoyo.com - home improvement
bersama memberdayakan diri dan keluarga

Online Store, Antara Mimpi dan Kenyataan (II)

March 3, 2009 by admin  
Filed under Pitoyo Amrih

(sambungan artikel sebelumnya)

Sekian banyak saya coba amati dan pelajari beberapa online store yang dimiliki oleh ‘pure-player’ maupun ‘brick and clicker’ lokal, kesimpulan sementara saya, bahwa sebagian besar diantara mereka masih rancu dalam membuat garis batas jelas antara e-marketing dan e-sales.

Online store, memang bisa diibaratkan seperti seseorang yang memiliki dua kaki, yang pada kasus tertentu, bisa menempatkan kaki sebelah pada fungsi pemasaran (e-marketing) dan pada saat yang sama kaki satunya menapak pada fungsi transaksi penjualan (e-sales). Sesuatu yang bila mengacu pada sebuah kegiatan usaha ‘brick and mortar’ telah dibuat batas yang jelas kedua kegiatan itu yaitu pada upaya strategi pemasaran, menyangkut menentukan segmen, menciptakan differensiasi, mengkomunikasikan produk, dan sebagainya. Dengan kegiatan distribusi, yang berfokus pada fungsi bagaimana produk bisa menjangkau konsumen secara efektif dan efisien.

Hanya saja, kebanyakan online store lokal (dari Indonesia), baik melalui blog maupun situs sendiri, sepertinya kurang tuntas dalam menapakkan kedua kakinya pada kedua fungsi di atas. Sehingga hal ini menjadi sebuah tantangan ketiga bagi online store ini, yaitu bagaimana seorang netter sebagai calon pembeli, sudah cukup memiliki informasi atas apa yang terpampang pada blog atau situs yang menawarkan atau menjual sebuah produk.

Saya ambil contoh, misal ada sebuah online store lokal dari sebuah blog, yang seperti berusaha memfungsikan dirinya seperti sebuah butik. Menjual berbagai macam perlengkapan wanita. Dari blus, tas wanita, sepatu wanita, sendal, berhiasan, dan sebagainya. Tampilan blog itu begitu menarik. Tatanan foto-foto produk pun cukup atraktif. Dan di setiap foto diberi keterangan harga dalam rupiah. Blog itu terdiri dari banyak halaman yang semuanya berisi foto-foto dengan keterangan harga dibawah. Dan ada satu halaman yang berisi rincian tata cara pemesanan, berupa baris kalimat yang menginstruksikan agar para pembeli mencatat sendiri barang mana saja yang dipilih, menjumlahkannya, kemudian diminta mengirim pesanan ke no hp atau alamat e-mail tertentu, itupun harus melewati tahap konfirmasi akan ketersediaan stok barang. Sementara ongkos kirim akan ditentukan kemudian setelah penjual tahu persis berapa total berat barang yang akan dibeli.

Pada kondisi seperti ini, saya mencoba membayangkan bila saya sebagai seorang pembeli, sepertinya butuh sebuah kesabaran komunikasi yang cukup panjang antara dua pihak, baik antara penjual dan pembeli. Dan bila pada akhirnya terjadi transaksi, hal itu saya yakin adalah sebuah hasil akhir dari komunikasi dua belah pihak yang sama-sama bisa saling percaya, sabar, dan menganggap satu sama lain saling membutuhkan –dalam arti pembeli harus merasa bahwa sang penjual adalah satu-satunya pihak yang bisa memenuhi kebutuhannya, dan si penjual harus menganggap sang pembeli, adalah pembeli satu-satunya-. Hal ini tentunya menjadi kontraproduktif dengan tawaran kemudahan pada toko online. Fungsi online store yang seharusnya mudah, menjadi tampak merepotkan. Bila tidak ada diferensiasi yang tajam pada produk, maka tentunya orang akan memilih untuk datang ke toko swalayan saja untuk memenuhi kebutuhannya tinimbang beli online.

Sebuah blog, kita tahu disana ada keterbatasan fungsi. Bila kita ingin menjual produk dengan memakai blog, maka dia hanya bisa dimanfaatkan dari fungsi e-marketing saja. Maka ketika itu disadari dari awal, maka sebaiknya –menurut saya- pemilik lebih berkonsentrasi untuk memaksimalkan fungsi ini. Dimana strateginya tidak hanya sekedar mendisplay barang, tapi lebih luas lagi, seperti upaya membentuk komunitas, menajamkan diferensiasi produk, edukasi terhadap konsumen, menciptakan trend. Sementara dari sisi e-sales, bila kemampuannya masih pada taraf ‘hanya’ kemudahan komunikasi jarak jauh saja, saya cenderung untuk justru mengupayakan distribusinya fokus pada distribusi barang secara konvensional, seperti memberi informasi jelas letak toko fisik, sehingga orang bisa datang untuk melihat produk yang ditawarkan. Atau bila upaya online ingin dimaksimalkan, mau tak mau harus menciptakan sumberdaya tenaga pemasar yang harus sering online sehingga memudahkan komunikasi misal melalui messenger dan sebagainya.

Fungsi e-sales yang ideal pada online store, sebenarnya bukanlah fungsi yang sederhana. Sepanjang saya tahu belum ada blog yang menyediakan fungsi ini, sehingga membuat situs sendiri adalah satu-satunya cara untuk memaksimalkan fungsi e-sales pada online store. Dan itupun belum cukup! Kita harus membuat program online store yang bisa mewakili layaknya sebuah fungsi toko. Selain display barang berupa foto dan dekripsi, informasi harga, juga program-program lain yang dipasang di sana sehingga pengoperasiannya mudah. Seperti program untuk memasang pajak penjualan secara otomatis pada semua barang, atau program untuk membuat diskon promo, sehingga secara otomatis memotong harga kelompok definisi barang-barang tertentu. Juga program yang memungkinkan kita memberi informasi berat barang, sehingga bila belanja barang lebih dari satu, otomatis program akan menjumlah berat untuk perhitungan ongkos kirimnya. Tidak hanya di situ, online store ini juga harus bisa mendefiniskan wilayah-wilayah pengiriman, setiap kali konsumen mengisi tujuan kiriman, sehingga secara otomatis ongkos kirim akan ditambahkan. Juga yang tak kalah pentingnya, adalah info tentang stok. Yang seharusnya memungkinkan program untuk mengurangi stok secara otomatis setiap kali ada pembeli yang sudah melakukan konfirmasi pemesanan. Sehingga tanpa harus bertanya, konsumen akan selalu tahu kondisi stok barang secara update. Dan terakhir adalah metode pembayarannya, misal via ATM, konsumen juga harus secara otomatis mendapat info yang bisa setiap saat di-print, tentang total pembelian dan no rek yang dituju. Syukur-syukur di sana disediakan link internet banking bagi yang memilikinya.

Program online store shareware juga banyak terdapat di internet, semisal yang cukup banyak disukai formatnya adalah oscommerce, cube-cart atau zen-cart. Tapi bila program jadi ini akan diaplikasikan untuk penjualan online di Indonesia, mungkin perlu banyak penyesuaian-penyesuaian program, yang hanya bisa dilakukan oleh para programmmer. Seperti misalnya, masalah yang ada disana adalah tampilan kurs yang tersedia belum ada dalam bentuk Rupiah. Modul transaksi pembayaran via ATM, harus kita tambahkan sendiri pilihan-pilihannya, karena yang tersedia di sana, hanya metode pembayaran yang banyak dipakai di Eropa dan Amerika seperti kredit-card, paypal (sampai saat ini, paypal bagi area Indonesia hanya bisa melakukan pembayaran, belum bisa menerima pembayaran), ipayment, money-order, dan sebagainya, yang tidak umum bagi kita di Indonesia. Termasuk juga modifikasi dalam modul shipping, dimana di kita biasanya akan memakai sistem zone, mengikuti kebanyakan jasa kurir domestik. Sementara yang tersedia di program online memungkinkan banyak pilihan –flatrate, zone, per definisi item, berat, dan sebagainya- yang tidak perlu dan kemungkinan justru membingungkan konsumen.

Saya terkadang berpikir, mungkin memang sudah hukum alamnya, bila kita ingin online store yang mudah bagi konsumen, tuntutannya akan sangat rumit bagi pembuat program, yang tentunya berdampak mahal ongkos investasinya. Kalau program yang mudah dan memanfaatkan yang ada –misal blog atau online store software shareware apa adanya-, biasanya justru sulit bagi konsumen. Mungkin justru tantangan kita menciptakan sesuatu diantara keduanya…
(bersambung)

*) Pitoyo Amrih
www.pitoyo.com - home improvement
bersama memberdayakan diri dan keluarga

Next Page »