Nguwongke: Memanusiakan Manusia

December 15, 2009 by admin  
Filed under Agung Praptapa


Dalam teori ekonomi manusia dimasukkan sebagai faktor produksi, sama halnya bahan baku, mesin, dan uang. Akibatnya banyak teori turunannya yang menempatkan manusia sebagai alat produksi juga. Ilustrasi logikanya begini: “Kamu bekerja di sini digaji Rp. 5 juta maka kamu harus menghasilkan untuk perusahaan Rp. 8 juta sehingga perusahaan untung Rp. 3 juta. Kalau kamu menghasilkan dibawah Rp. 5 juta berarti perusahaan rugi, dan kamu harus digantikan orang lain yang akan mampu menghasilkan melebihi yang aku keluarkan untuk menggaji orang tersebut.” Logika tersebut diberlakukan kepada semua orang sehingga total keuntungan tinggal dihitung saja. Setiap orang berkontribusi terhadap keuntungan sehingga semakin banyak orang akan semakin banyak keuntungan didapat. Seperti halnya mesin, kalau satu mesin dapat menghasilkan 100 unit produk maka lima mesin akan menghasilkan 500 unit produk. Rasakan bagaimana kalau kita bekerja pada suatu perusahaan yang menggunakan logika tersebut? Akan nyamankah kita? Maukah Anda diberlakukan seperti itu?

Anda pasti merasa ngeri dengan perlakuan manusia sebagai faktor produksi seperti itu. Manusia dianggap seperti halnya mesin saja. Ini tentunya tidak manusiawi. Untuk itulah maka banyak pendekatan manajemen yang kemudian memberikan perlakuan tersendiri terhadap faktor produksi yang satu ini. Manusia di tempatkan sebagai manusia. Namun tetap saja manusia dituntut memberikan keuntungan ekonomis terhadap perusahaan. Manusia dirangsang dengan berbagai cara agar bekerja lebih giat. Munculah kemudian konsep reward and punishment, bahkan ada yang menggunakan istilah carrot and stick. Agar termotivasi bekerja lebih baik, manusia dirangsang dengan wortel (sebagai simbol dari reward) dan ditakut-takuti dengan tongkat pemukul (sebagai simbol dari punishment). Kalau begini, komplit sudah penderitaan manusia, yang tidak dimanusiakan dalam dunia kerja!

Konsep yang tumbuh dan dikembangkan sejak jaman revolusi industri tersebut terus digunakan sampai sekarang. Konsep itu dianggap paling pas untuk mengendalikan orang. Namun manusia adalah manusia. Tetap saja ada rasa. Ada jiwa. Rasa dan jiwa tersebut perlu disirami, dibelai, dan diberi kasih sayang agar tidak mati. Manusia harus dimanusiakan. Konsep pendekatan memanusiakan manusia inilah yang dalam kearifan lokal jawa disebut dengan istilah “nguwongke”.

Nguwongke berasal dari kata “uwong”, kata dalam bahasa jawa yang berarti orang atau manusia. Sehingga nguwongke dapat diterjemahkan sebagai memanusiakan, atau menempatkan manusia sebagai manusia. Seorang manusia berbeda antara satu dengan lainnya. Tidak ada yang sama persis. Oleh karenanya dalam menangani manusia terdapat aspek yang sifatnya “customized”, yang berbeda antara menangani satu orang dengan orang lain. Namun sekali lagi manusia adalah manusia. Disamping memiliki kekhasan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain, terdapat pula kesamaan antara seorang manusia dengan manusia lain.

Setiap manusia ingin hidup nyaman, ingin dicintai, ingin dihargai, ingin dimengerti. Mari kita kaitkan dengan masalah pengendalian. Dalam konsep pengendalian, apabila kita berhasil memberikan apa yang diperlukan oleh orang-orang disekitar kita, maka orang-orang disekitar kita akan lebih mudah dan lebih merasa nyaman saat harus kita kendalikan. Dengan kata lain, karena manusia ingin hidup nyaman maka apabila kita berhasil memberikan kenyamanan, kita akan lebih mudah mengendalikan orang tersebut. Jadi, karena mereka ingin cinta, maka berikanlah cinta. Mereka ingin dihargai, maka berikan penghargaan. Mereka ingin dimengerti, maka berikan pengertian. Itu kiatnya. Berikan apa yang mereka inginkan, karena sebagian besar yang mereka inginkan sebetulnya kita mampu untuk memberikannya.

Tapi kan sebenarnya yang dibutuhkan oleh orang-orang di sekitar kita adalah uang? Iya, benar. Mereka butuh uang. Untuk hal ini mari kita renungkan sejenak. Mereka memang butuh uang. Tetapi mereka butuh juga yang lainnya bukan? Kalau kita mampu memberikan ‘uang’ seperti yang mereka inginkan, itu bagus. Tetapi itu juga tidak secara otomatis akan membuat mereka kemudian mudah dan nyaman kita kendalikan. Ada tipe-tipe orang yang prinsip bekerjanya adalah transaksional. Ada uang saya bekerja, kalau tidak ada uang ya maaf saja. Ada pula orang yang dalam bekerja lebih mementingkan kehangatan, dimana mereka memerlukan uang tetapi keharmonisan hubungan lebih mereka utamakan. Disinilah mulai nampak bahwa setiap orang memiliki kekhasan sendiri-sendiri. Prioritas seseorang dengan orang lain berbeda-beda.

Nah, kalau kita berhadapan dengan kekhasan orang, maka kita perlu memiliki soft skill untuk memahami orang per orang. Dari kebutuhan umum orang-orang disekitar kita yang dapat kita generalisasikan, ternyata ada prioritas yang berbeda antara satu dengan lainnya. Secara umum orang ingin kaya, ingin memiliki kekuasaan, ingin terkenal, ingin dihormati, ingin didengar, ingin dikagumi, dan ingin-ingin yang lainnya. Coba kita amati, dari daftar keinginan tersebut ternyata prioritas satu orang dengan orang lainnya tidak selalu sama. Kalaupun sama, terkadang juga sama secara umum saja, detailnya biasanya berbeda. Inilah yang menjadikan antara satu orang dengan orang lainnya memiliki kekhasan yang tersendiri.

Keragaman keinginan yang berbeda-beda ini memberikan kesempatan kepada kita untuk bisa menjadikan mereka di bawah kendali kita. Di bawah kendali di sini bukan berarti kemudian mereka bisa kita perbudak. Bukan begitu. Di bawah kendali kita berarti mereka dapat bersama-sama kita mendapatkan apa yang kita mau. Mereka menjadi ada kerelaan untuk bersama-sama kita mencapai tujuan bersama. Mengapa saya sebut sebagai kesempatan? Karena tidak semua orang mampu memahami perbedaan-perbedaan tersebut. Padahal, memahami perbedaan tersebut sebenarnya tidaklah sulit. Hanya diperlukan kerelaan kita untuk mau mengerti. Dan sekali seseorang merasa dipahami, dimengerti, dihargai, dan merasa dimanusiakan, maka ada kecenderungan mereka merasa kita ada di pihak mereka, sehingga mereka juga akan menempatkan diri di pihak kita pula. Terjadilah di sini perasaan bahwa kita adalah “kita”, atau “we”, bukan “You and I”.

Kalau ingin dihargai, hargailah orang lain. Kalau ingin dimengerti, cobalah mengerti orang lain. Manusia adalah manusia. Perlakukan mereka sebagai manusia. Mari kita coba untuk selalu “nguwongke” orang-orang di sekitar kita sehingga mereka juga akan “nguwongke” kita. Setelah itu, lihat saja, mereka akan dengan rela bersama-sama kita untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. They will be under our influence. They will be under our control. We will be “us” not “You and I”.

*) Agung Praptapa, adalah penulis buku “The art of controlling people” (Gramedia, 2009). Seorang dosen, konsultan, dan trainer untuk pengembangan diri maupun pengembangan organisasi. Alumni Proaktif Schoolen.

Random Posts

Rating This Post

Comments

8 Responses to “Nguwongke: Memanusiakan Manusia”

  1. Emmy Liana Dewi on December 16th, 2009 7:14 pm

    Kalau seorang pegawai diperlakukan dengan manusiawi dan dianggap sebagai salah satu pemilik perusahaan, tentunya dia akan berusaha membuat perusahaannya maju dan berkembang dengan maksimal. Istilah reward and punishment mengingatkan saya pada kelinci maupun binatang percobaan lainnya di lab. Bila ‘manut’ diberi hadiah…, bila tidak nurut di cuekin bahkan dipukul. Kasihan, deh……

  2. Agung Praptapa on December 17th, 2009 10:31 pm

    Bu Emmy, saya malah mendambakan bahwa pada suatu waktu ada undang-undang yang mewajibkan perusahaan membayar sebagian bonus karyawan dengan saham sehingga karyawan otomatis juga pemilik perusahaan. Dengan demikian maka karyawan akan dengan suka rela bekerja lebih produktif karena bekerja pada perusahaan sendiri yang dimilikinya, walau dengan proporsi kecil.

  3. AGUNG PRAPTAPA » Blog Archive » Nguwongke: Memanusiakan Manusia on December 20th, 2009 7:32 am

    [...] baca artikel saya terbaru yang dimuat di pembelajar.com yang berjudul “Nguwongke: Memanusiakan Manusia“. Untuk membaca silakan klik di sini. Thanks. AP This entry was posted on Sunday, December [...]

  4. darmawati on December 23rd, 2009 6:21 am

    Bagaimana pak, menghadapi karyawan yang sudah relatif ‘lama’ bekerja pada kita yang cenderung ‘menggampang’kan?

  5. Hangga Nuarta on January 1st, 2010 12:03 pm

    Hm… Jadi memberi dulu baru menerima ya.., Pak Agung???

  6. Agung Praptapa on January 6th, 2010 3:31 pm

    @ Darmawati: manusia tetaplah manusia. Ada kelebihan dan ada kekurangannya. Coba fokus pada kelebihannya.
    @ Hangga: memberi dan menerima itu satu paket. Jadi jangan ragu2 untuk memberi. sukses!

  7. zaenal on January 16th, 2010 9:19 pm

    sebagai seorang karyawan saya tidak setuju dengan pernyataan bapak tentang konsep punishment & reward sebagai bentuk penderitaan manusia,karena dengan reward seorang karyawan akan lebih termotivasi lagi bekerja dengan lebih baik meskipun masih ada banyak cara yang lain untuk memotivasi bekerja lebih baik. Dan untuk pemberian punishment diberikan karena orang tersebut harus diberikan sangsi atas kesalahannya dalam bekerja dan itu harus setimpal dengan kesalahannya juga manusiawi sehingga memberikan kesempatan terhadap si karyawan untuk tidak mengulangi ksesalahannya. Dan Saya rasa itu cukup fair serta manusiawi.

  8. Agung Praptapa on March 15th, 2010 1:50 pm

    Terimakasih Pak Zaenal atas komentarnya. Saya kira kita sependapat, bahwa bentuk reawrd dan punishment harus didesign sedemikian rupa sehingga manusiawi. Kalau memang fair, ya bagus. Itu juga manusiawi. Pesan yang penting pada tulisan tersebut adalah “sentuhan nguwongke” memiliki nilai yang luar biasa. Salam hangat. Sukses selalu.

Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!